Para juru masak tidak digaji bulanan.
Mereka hanya menerima THR sebesar Rp1.500.000 per orang setiap Ramadan dari seorang dermawan.
“Kalau bukan bulan Ramadan, enggak ada apa-apa. Kami masak saja,” ujarnya.
Dana operasional kadang berasal dari sumbangan masyarakat.
Namun Mardiana mengaku tidak pernah tahu detail anggaran.
Mardiana hanya fokus memasak.
“Kalau orang kasih uang, saya tanya dulu ini untuk saya atau untuk masak. Kalau untuk masak, saya kasih ke pengurus,” katanya.
Hingga kini, belum ada apresiasi khusus dari pemerintah setempat, meski bubur peca sudah dikenal luas dan disebut sebagai warisan budaya.
Di usianya yang sudah 62 tahun, Mardiana mengaku mulai sering sakit-sakitan.
Ia bahkan pernah operasi dan tidak lagi sempat salat tarawih karena harus menyelesaikan masakan hingga malam.
Meski sudah mencoba mengajari ibu-ibu dan remaja masjid, belum ada yang benar-benar berani mengambil alih untuk meneruskan masakan bubur peca.
“Resepnya mungkin sudah lihat, tapi takut ngasih makan orang banyak. Cara ngaduknya itu yang susah,” katanya.
Ia khawatir jika tidak ada penerus, tradisi 100 tahun ini bisa terhenti.
“Saya bilang belajar. Enggak mungkin saya begini terus. Namanya umur,” ucapnya pelan.
Namun selama masih mampu berdiri dan mengaduk kuali besar itu, Mardiana akan tetap memasak.
Sebab bagi dia, bubur peca bukan cuma soal rasa melainkan amanah keluarga dan warisan budaya kota Samarinda.
Dan selama azan magrib berkumandang di Masjid Shiratal Mustaqiem setiap Ramadan, aroma bubur peca akan terus mengepul, mengikat kenangan dan kebersamaan warga kota tepian.
“Saya ini cuma mau bubur peca jangan sampai hilang. Siapa pun nanti yang lanjut, yang penting rasanya tetap sama dan orang-orang masih bisa buka puasa di sini,” tutup Mardiana.
(wan)
Tag




