ARUSBAWAH.CO - Rabu dini hari (26/3/2026), ketika denyut perdagangan di Pasar Segiri, Samarinda baru saja dimulai, sebuah drama antara hidup dan mati pecah dalam sunyi.
Pukul 03.45 WITA, api yang diduga bermula dari deretan lapak pedagang lain mendadak membubung tinggi.
Diiringi suara ledakan yang membelah kegelapan, si jago merah merambat cepat, menjilat bagian depan sebuah gudang sembako yang sekaligus menjadi tempat bernaung keluarga Ibu Aji Rasna.
Di dalam bangunan yang mulai terkepung hawa panas itu, seorang mahasiswa sedang terlelap di lantai atas, tak menyadari bahwa maut sedang mengetuk pintu depannya.
Ibu Aji Rasna, sang pemilik gudang, saat itu sedang berada jauh di lapak dagangannya di area penjual daging.
Di tengah keriuhan transaksi subuh, ia sama sekali tidak mendengar teriakan peringatan tentang bencana yang sedang merambat menuju arah rumahnya.
"Aku di pasar, jualan di belakang dekat daging. Sudah besar api baru aku tahu. Nggak ada pokoknya nggak ada orang yang teriak. Nggak ada yang enggak ada, pokoknya pas ada mesin kan aku nggak dengar," ungkap Ibu Aji Rasna saat diwawancarai di lokasi, Selasa (1/4/2026).
Pikiran Ibu Aji seketika lumpuh saat menyadari putranya masih berada di dalam.
Di lantai atas yang mulai dimasuki asap, sang putra terbangun bukan karena alarm ponsel, melainkan akibat suara ledakan keras yang bersumber dari lapak-lapak tetangga yang ludes dilalap api tepat di depan tempat tinggalnya.
Satu Dekapan demi Masa Depan
Situasi berubah mencekam ketika sang mahasiswa mendapati pintu keluar utama sulit terbuka.
Di bawah ancaman api kiriman yang mulai menghanguskan bagian depan bangunan, ia harus berjuang sekuat tenaga mendobrak jalan keluar demi sejengkal udara.
Tag



