Setelah santan dan bumbu tercampur, ayam suwir dan garam ditakar sesuai ukuran.
Takaran itu sudah ia hafal di luar kepala.
Dalam lima kilogram beras, sudah ada ukuran pasti berapa sendok garam dan bumbu yang dipakai.
Bubur peca dikenal dengan rasa gurih dan asin dan tidak pernah dibuat manis.
“Kalau manis itu lain lagi, itu bubur sumsum atau bolu peca. Ini memang tradisinya gurih dan asin,” tegasnya.
Setiap hari, lauk bubur peca berbeda-beda.
Kadang telur, kadang ayam, kadang udang.
Namun rasa dasar buburnya tidak akan penah berubah di tinggali zaman.
Bagi warga Samarinda Seberang, bubur peca bukan sekadar makanan berbuka.
Ini bagian dari identitas.
Bahkan ada yang menyebutnya obat panjang umur.
“Kalau bulan puasa enggak ada bubur peca, rasanya ada yang kurang,” ujar Mardiana.
Tak hanya warga lokal, pengunjung dari luar kota juga sering datang.
Kata dia, bahkan sering ada rombongan dari Madura, Bali, Balikpapan, hingga komunitas anak motor yang pernah datang lebih dari 100 orang untuk berbuka bersama.
Namun Mardiana selalu mengingatkan, rombongan besar harus memberi kabar lebih dulu.
“Kalau 50 orang enggak bilang dulu, takutnya enggak cukup. Kalau ngomong, kami tambah masak,” katanya.
Regenerasi Bubur Peca Samarinda dan Kekhawatiran Mardiana
Saat ini, Mardiana dibantu enam orang di dapur.
Dulu sempat tujuh orang, namun dua berhenti karena tidak sanggup.
Remaja dan pemuda masjid membantu di bagian distribusi, bukan memasak.
Tag



