ARUSBAWAH.CO - Di bawah bayang-bayang raksasa beton Flyover, ada sebuah aroma yang melawan debu jalanan Jalan A. Wahab Syahranie.
Aroma itu manis, gurih, dan hangat sebuah kontradiksi di tengah bisingnya deru mesin kendaraan Kota Samarinda yang tak pernah tidur.
Di sana, di balik etalase kaca yang berpendar terang, Acil Nurasihkin berdiri dengan senyum tipis.
Malam itu, Rabu (1/4), ia tidak sekadar menggoreng adonan; ia sedang merawat sebuah sejarah yang telah berusia hampir 40 tahun.
Melawan Lupa: Resep yang Menolak Punah
Bagi sebagian orang, Untuk-untuk mungkin hanyalah roti goreng isi kacang atau kelapa.
Namun bagi Nurasihkin, setiap butir kue seharga Rp2.000 itu adalah nafas keluarganya.
Cerita ini bermula pada tahun 1987, saat Samarinda masih jauh dari kata macet.
Bersama sang ibu, Nurasihkin remaja menjajakan gorengan di emperan Perpustakaan Daerah.
"Mama saya jualan dari tahun '87. Saya besar di sana, belajar dari sana," kenang wanita yang malam itu tampil bersahaja dengan penutup kepala berpola.
Nama Aneka Kue Nurbayah yang terpampang di spanduk rombongnya bukan sekadar merek.
Ia adalah identitas yang dipaksa menjadi nomaden oleh deru pembangunan kota.
Tag



