ARUSBAWAH.CO - Tahu kah kamu bahwa di Samarinda ada sebuah tradisi turun temurun sejak ratusan tahun lalu yang terus ada hingga kini.
Namanya adalah bubur peca.
Bubur khas ini hanya ada di Masjid Shiratal Mustaqiem, Jalan Pangeran Bendahara, Samarinda Seberang, Kota Samarinda.
Dan uniknya, bubur peca hanya dimasak pada saat bulan suci Ramadan.
Tradisi itu sudah ada sejak sekitar 100 tahun lalu dan tetap bertahan hingga sekarang.
Di balik kepulan asap dari dapur masjid itu, ada sosok Mardiana wanita parubaya berusia 62 tahun.
Perempuan sederhana ini sudah lebih dari 20 tahun menjadi peracik utama bubur peca.
Ia meneruskan tradisi dari ibunya, yang sebelumnya juga meneruskan dari neneknya.
Resepnya turun-temurun, tidak tertulis, hanya diingat dan dirasakan.
“Dari nenek, terus mamak neruskan. Mamak meninggal, saya lagi yang teruskan,” kata Mardiana sambil mengaduk bubur dalam kuali besar ditemui redaksi Arusbawah.co, pada Jumat (20/2/2026).
Proses Memasak Bubur Peca Ramadan: 50 Kilogram Beras Setiap Hari
Setiap hari selama Ramadan, Mardiana dan timnya mulai bekerja sejak pukul 07.30 pagi.
Proses memasak tidak sebentar.
Air harus benar-benar mendidih sebelum beras dimasukkan.
Jika tidak, katanya, hasilnya tidak akan sama.
Bahan utamanya beras.
Dalam sehari, mereka menghabiskan sekitar 50 kilogram beras, bahkan bisa dua karung.
Bubur yang dihasilkan mencapai 300 porsi untuk jemaah berbuka di masjid dan 200 porsi lainnya dibagikan ke masyarakat.
Rempah-rempahnya jadi kunci rasa.
Ada bawang putih, bawang merah, jahe, kayu manis, buah pala, kunyit, ditambah santan dan ayam suwir.
Semua bumbu digiling segar sebelum dimasak.
“Airnya direbus dulu, baru masuk kayu manis sama pala. Kalau sudah mendidih baru beras masuk. Santannya belakangan, masaknya hampir sejam,” jelasnya.
Setelah santan dan bumbu tercampur, ayam suwir dan garam ditakar sesuai ukuran.
Takaran itu sudah ia hafal di luar kepala.
Dalam lima kilogram beras, sudah ada ukuran pasti berapa sendok garam dan bumbu yang dipakai.
Bubur peca dikenal dengan rasa gurih dan asin dan tidak pernah dibuat manis.
“Kalau manis itu lain lagi, itu bubur sumsum atau bolu peca. Ini memang tradisinya gurih dan asin,” tegasnya.
Setiap hari, lauk bubur peca berbeda-beda.
Kadang telur, kadang ayam, kadang udang.
Namun rasa dasar buburnya tidak akan penah berubah di tinggali zaman.
Bagi warga Samarinda Seberang, bubur peca bukan sekadar makanan berbuka.
Ini bagian dari identitas.
Bahkan ada yang menyebutnya obat panjang umur.
“Kalau bulan puasa enggak ada bubur peca, rasanya ada yang kurang,” ujar Mardiana.
Tak hanya warga lokal, pengunjung dari luar kota juga sering datang.
Kata dia, bahkan sering ada rombongan dari Madura, Bali, Balikpapan, hingga komunitas anak motor yang pernah datang lebih dari 100 orang untuk berbuka bersama.
Namun Mardiana selalu mengingatkan, rombongan besar harus memberi kabar lebih dulu.
“Kalau 50 orang enggak bilang dulu, takutnya enggak cukup. Kalau ngomong, kami tambah masak,” katanya.
Regenerasi Bubur Peca Samarinda dan Kekhawatiran Mardiana
Saat ini, Mardiana dibantu enam orang di dapur.
Dulu sempat tujuh orang, namun dua berhenti karena tidak sanggup.
Remaja dan pemuda masjid membantu di bagian distribusi, bukan memasak.
Para juru masak tidak digaji bulanan.
Mereka hanya menerima THR sebesar Rp1.500.000 per orang setiap Ramadan dari seorang dermawan.
“Kalau bukan bulan Ramadan, enggak ada apa-apa. Kami masak saja,” ujarnya.
Dana operasional kadang berasal dari sumbangan masyarakat.
Namun Mardiana mengaku tidak pernah tahu detail anggaran.
Mardiana hanya fokus memasak.
“Kalau orang kasih uang, saya tanya dulu ini untuk saya atau untuk masak. Kalau untuk masak, saya kasih ke pengurus,” katanya.
Hingga kini, belum ada apresiasi khusus dari pemerintah setempat, meski bubur peca sudah dikenal luas dan disebut sebagai warisan budaya.
Di usianya yang sudah 62 tahun, Mardiana mengaku mulai sering sakit-sakitan.
Ia bahkan pernah operasi dan tidak lagi sempat salat tarawih karena harus menyelesaikan masakan hingga malam.
Meski sudah mencoba mengajari ibu-ibu dan remaja masjid, belum ada yang benar-benar berani mengambil alih untuk meneruskan masakan bubur peca.
“Resepnya mungkin sudah lihat, tapi takut ngasih makan orang banyak. Cara ngaduknya itu yang susah,” katanya.
Ia khawatir jika tidak ada penerus, tradisi 100 tahun ini bisa terhenti.
“Saya bilang belajar. Enggak mungkin saya begini terus. Namanya umur,” ucapnya pelan.
Namun selama masih mampu berdiri dan mengaduk kuali besar itu, Mardiana akan tetap memasak.
Sebab bagi dia, bubur peca bukan cuma soal rasa melainkan amanah keluarga dan warisan budaya kota Samarinda.
Dan selama azan magrib berkumandang di Masjid Shiratal Mustaqiem setiap Ramadan, aroma bubur peca akan terus mengepul, mengikat kenangan dan kebersamaan warga kota tepian.
“Saya ini cuma mau bubur peca jangan sampai hilang. Siapa pun nanti yang lanjut, yang penting rasanya tetap sama dan orang-orang masih bisa buka puasa di sini,” tutup Mardiana.
(wan)




