Saat ini terdapat 66 SPPG yang beroperasi di Samarinda. Untuk mendukung pengawasan, BGN membentuk koordinator kecamatan yang bertugas memantau operasional di masing-masing wilayah. Pengawasan juga melibatkan kepala SPPG di tiap satuan pelayanan.
Ia menyebut inspeksi mendadak (sidak) dilakukan secara rutin, termasuk saat proses produksi yang umumnya berlangsung pada malam hari.
“Secara arahan, dalam seminggu bisa tiga kali sidak. Tapi kalau saya pribadi, maunya setiap hari. Hanya memang keterbatasan SDM, satu malam mungkin hanya bisa satu unit,” katanya.
Menurutnya, rantai distribusi makanan dalam program MBG cukup panjang, mulai dari kualitas bahan baku, proses produksi, distribusi, hingga sampai ke penerima manfaat. Karena itu, jika terjadi dugaan gangguan kesehatan, diperlukan uji laboratorium sebelum menyimpulkan adanya kejadian luar biasa (KLB).
“Rantainya panjang, tidak bisa langsung disimpulkan dari satu titik saja. Kalau ada dugaan gangguan pencernaan misalnya, itu harus ada hasil uji lab dulu,” jelasnya.
Ia kembali menegaskan bahwa kunci utama keamanan pangan dalam program MBG adalah kepatuhan terhadap standar operasional prosedur.
“Kuncinya satu, SOP. Kalau SOP dijalankan dengan benar, saya yakin aman,” tegas Hariono. (raf)
Tag




