ARUSBAWAH.CO - Viral soal roti yang diduga berjamur dalam menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat Ramadan di Samarinda memicu kekhawatiran orang tua siswa.
Roti tersebut dikabarkan merupakan bagian dari paket MBG yang diterima siswa di sejumlah sekolah di Kecamatan Sungai Pinang serta di salah satu SD berlokasi di Jalan Perjuangan, Samarinda Utara.
Kasus ini mencuat setelah foto roti yang diduga berjamur beredar di grup percakapan orang tua murid.
Dalam foto yang beredar, kemasan roti disebut hanya mencantumkan tanggal kedaluwarsa tanpa dilengkapi label resmi seperti izin edar, BPOM, maupun sertifikasi halal.
Sebagai informasi, selama Ramadan menu MBG disesuaikan menjadi paket makanan kering agar lebih tahan simpan dan dapat dikonsumsi saat waktu berbuka puasa.
Paket tersebut umumnya berisi roti, kurma, kacang-kacangan, buah, dan susu.
Koordinator Wilayah Samarinda Badan Gizi Nasional (BGN), Hariono, menjelaskan, penyediaan roti tidak bekerja sama dengan pabrikan besar, melainkan pelaku UMKM lokal.
Kebijakan itu, kata dia, merupakan bagian dari konsep ekonomi sirkular yang diusung MBG melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), di mana keberadaan program diharapkan turut menggerakkan ekonomi sekitar.
“Kita memang prioritasnya UMKM, bukan pabrik besar. Karena SPPG ini juga pusat ekonomi sirkular, supaya bermanfaat ke lingkungan sekitar,” ujarnya, Rabu (25/2/2026).
Namun ia menegaskan, UMKM yang menjadi pemasok wajib memiliki izin Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) yang diterbitkan Dinas Kesehatan.
Perizinan tersebut menjadi standar minimal keamanan pangan.
Tag



