Bentuk bangunannya juga dinilai mirip dengan sejumlah masjid tua di Kalimantan, seperti Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman di Pontianak dan Masjid Jami Aji Amir Hasanuddin di Tenggarong.
Dari Kawasan Transit hingga Dijuluki “Texas-nya Samarinda”
Mas Bar menuturkan, berdirinya masjid ini tak bisa dilepaskan dari sosok Syekh Abdul Rahman bin Muhammad Assegaf, seorang saudagar kaya sekaligus ulama asal Pontianak.
Syekh Abdul Rahman datang ke Samarinda Seberang dengan niat awal berdagang.
Di masa itu, wilayah Samarinda Seberang dikenal sebagai tempat transit yang ramai.
Aktivitas perdagangan jalan terus, pertemuan antar orang dari berbagai tempat juga sering terjadi.
“Dulu di sini berkembang pesat. Ada orang-orang dari luar negeri juga,” kata Mas Bar, menyebut nama Belanda dan Jepang sebagai contoh yang sering diceritakan warga.
Syekh Abdul Rahman, menurut Mas Bar, lebih dulu meminta izin kepada penguasa Kutai Kartanegara, Sultan Haji Muhammad Sulaiman, karena Samarinda Seberang saat itu masuk wilayah kerajaan.
Setelah izin turun, Syekh Abdul Rahman menetap di sekitar lokasi dan mulai berdakwah.
Alasannya, kata Mas Bar, karena Syekh Abdul Rahman melihat banyak praktik yang dianggap menyimpang.
Samarinda Seberang pernah dijuluki warga sebagai “Texas-nya Samarinda” tempat judi dadu, sabung ayam, dan berbagai bentuk kemaksiatan berlangsung.
“Beliau prihatin. Akhirnya mulai berdakwah, memahamkan keislaman,” ujar Mas Bar.
Dari situ Syekh Abdul Rahman mengumpulkan tokoh-tokoh lokal untuk bermusyawarah.
Karena itu, dibutuhkan masjid sebagai pusat kegiatan ibadah dan pertemuan warga.
Lokasi pembangunan pun dipilih di tempat yang dulunya berupa lapangan besar dengan pepohonan bambu yang juga dikenal sebagai arena judi dan sabung ayam.
“Nah, dihapus semua itu, dibangunlah masjid,” kata Mas Bar.
Tag



