Empat Soko Guru, Renovasi, dan Al-Qur’an 300 Tahun
Tahap awal pembangunan dimulai dengan mendirikan empat pilar soko guru, tiang utama masjid.
Tiang-tiang itu dikumpulkan dari tempat berbeda-beda, Mas Bar menyebut Gunung Lipan Loa Janan, Karang Mumus, serta Handil Bakti.
Panjang soko guru ini, kata dia, sekitar 27 meter dari bawah sampai atas.
Mas Bar menyebut masjid ini beberapa kali mengalami perbaikan, tapi tetap dijaga agar tidak menghilangkan bentuk asli.
Empat tiang utama sempat diperkuat bagian bawahnya diberi semen karena kayu terkena air dan ada rayap, sehingga dikhawatirkan rapuh.
Lantai masjid juga pernah diperbaiki pada 2023 setelah sempat cekung karena jemaah membludak.
“Konstruksinya masih original. Kayu ulin semua,” ujarnya.
Selain itu, Masjid ini juga menyimpan Al-Qur’an berusia lebih dari 300 tahun dan tulis tangan yang disebut telah diteliti mahasiswa UINSI.
Di dalam mushaf ditemukan simbol-simbol yang dianggap berasal dari Eropa dan diperkirakan berusia ratusan tahun lebih dari 300 tahun.
Mushaf itu diyakini berpindah tangan dari satu tempat ke tempat lain sebelum akhirnya diwakafkan untuk dirawat di masjid Shiratal Mustaqiem.
Sementara menara depan masjid, menurut Mas Bar, merupakan sumbangan seorang mualaf bernama Muhammad Dassen, yang sebelumnya bernama Hendrik Dassen.
Ia tertarik pada Islam setelah melihat semangat gotong royong warga, lalu ikut menyumbang menara setinggi 21 meter.
"Jadi memang kita cukup bangga punya Masjid Shiratal Mustaqiem ini dan pernah mendapatkan kejuaraan sebagai masjid tertua se-Indonesia," pungkasnya.
(wan)
Tag




