Dengan bekal kaset CD dan kamus, ia belajar bahasa Indonesia hanya dalam waktu 1,5 bulan sebelum berangkat.
“Awal-awalnya otak capek sekali karena harus memproses bahasa baru, tapi lama-lama bisa,” tuturnya sambil tertawa.
Tak hanya itu, alasan pribadinya tetap tinggal di Indonesia juga karena ia jatuh cinta pada sosok Budiono, yang ditemuinya pada penelitian tahun 2000.
Mereka menikah pada 2001 dan dikaruniai seorang putri.
“Kami memang berbagi tugas. Saya lebih fokus riset, sementara Pak Budi lebih ke penguatan masyarakat. Tapi semua untuk pesut,” ujarnya.

Populasi Pesut Tinggal 60 Individu
Meski sudah puluhan tahun berjuang, tantangan terbesar tetap sama yakni populasi pesut yang terus menyusut.
Data terbaru 2025 menunjukkan jumlah pesut Mahakam hanya tersisa sekitar 60 individu.
“Kami sadar LSM saja tidak cukup. Harus ada dukungan kuat dari pemerintah, aparat penegak hukum, dan terutama masyarakat. Kalau tidak, dalam beberapa dekade ke depan, pesut bisa hilang dari Mahakam,” tegas Danielle.
Setengah hidupnya sudah Danielle abdikan untuk pesut Mahakam.
Dari Sungai Mahakam, dunia mengenal namanya.
Namun baginya, semua bukan soal popularitas, melainkan tentang menyelamatkan satu spesies langka dari kepunahan.
“Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melindungi mereka? Saya selalu percaya, pesut masih punya harapan kalau kita semua peduli,” pungkas ibu pesut Mahakam itu.

(wan)
Tag




