Lahirnya RASI, Garda Depan Konservasi Pesut
Tahun 2000, bersama Budiono suaminya, lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, mereka mendirikan RASI.
LSM ini menjadi garda depan konservasi pesut di Kalimantan Timur.
“Kalau hanya mengandalkan pemerintah, kami merasa masih kurang dekat dengan masyarakat. Jadi, kami bentuk LSM supaya bisa langsung turun ke warga,” kata Danielle.
Pendekatan yang mereka pilih unik, masyarakat sendiri yang menentukan zona konservasi.
Ada kawasan yang diputuskan warga untuk menjadi zona inti, tempat pemijahan ikan sekaligus habitat penting pesut.
“Kami hanya mendampingi, tapi keputusan tetap dari masyarakat. Itu membuat mereka lebih merasa memiliki,” lanjutnya.
Inovasi Pinger, Teknologi Penyelamat Pesut
Tak hanya soal sosialisasi, Danielle dan RASI juga berinovasi.
Salah satunya adalah teknologi pinger, alat yang mengeluarkan suara ultrasonik untuk mengusir pesut agar tidak masuk ke jaring nelayan.
“Inspirasi pinger ini sebenarnya dari industri perminyakan di laut. Mereka memakainya untuk menjauhkan lumba-lumba dari area pengeboran. Kami coba adaptasi di Mahakam,” ungkapnya.
Dengan pinger, ancaman pesut terjerat rengge bisa ditekan.
Namun tantangan lain tetap menghantui, mulai dari aktivitas kapal batu bara, pencemaran sungai, hingga maraknya illegal fishing.
Kehidupan Personal Danielle di Indonesia
Di balik kiprahnya, perjalanan hidup Danielle Kreb penuh cerita personal.
Ia mengakui awalnya khawatir diterima masyarakat Indonesia, mengingat sejarah kolonial Belanda di Indonesia.
Namun kekhawatiran itu sirna.
“Orang Kalimantan sangat ramah. Bahkan ada yang masih bisa bahasa Belanda dan mengajak saya bicara. Saya justru merasa disambut dengan hangat,” katanya.
Penyesuaian bahasa pun bukan perkara mudah.
Tag



