Namun hingga kini, fitur seperti promo hemat, slot, goceng, dan double order masih tetap dijalankan.
Fitur-fitur tersebut dianggap sangat merugikan mitra driver karena menekan tarif pengantaran menjadi sangat murah.
Ivan menyebut para driver ojek online hanya mendapat pendapatan bersih sebesar Rp2.000 untuk satu kali pengantaran makanan.
“Kami bekerja keras, tapi penghasilan sangat minim karena adanya fitur-fitur promo yang terus dijalankan. Ini bukan persaingan sehat. Ini penindasan secara sistematis,” tegas Ivan.
Ia berharap, Pemprov Kaltim tidak sekadar mengeluarkan kebijakan, tapi berani menjatuhkan sanksi tegas kepada aplikator Grab dan Gojek yang telah melanggar.
"Kami minta Pemprov Kaltim jangan cuma jago bikin kebijakan, tapi berani kasih sanksi tegas ke Grab dan Gojek yang jelas-jelas sudah melanggar," tutup Ivan.
(wan)
- 'Cuma Saya yang Dia Punya': Kisah Fitri, Ibu Ojol Samarinda Tak Pernah Menyerah Demi Anak Semata Wayang
- Ketua Budgos Tagih Janji Bengkel Gratis, Pertamina Patra Niaga: Mulai Beroperasi Rabu atau Kamis Pekan Ini
- Sempat Viral di Medsos, Kronologis Perselisihan Ortu dan Ojek Online di Samarinda Ternyata Seperti Ini! Sudah Mediasi Damai
Tag




