Arus Publik

Penelusuran JATAM Bongkar 53 Orang Jadi Korban Lubang Tambang di Kaltim, Desak Aktivitas PT ECI Dihentikan

Potret korban terbaru di lubang bekas tambang yang dikirimkan Jatam Kaltim/ HO to Arusbawah.co

ARUSBAWAH.COJaringan Advokasi Tambang (JATAM) Kalimantan Timur kembali membunyikan alarm atas persoalan lubang tambang yang terus memakan korban jiwa di Benua Etam.

Melalui penelusurannya, JATAM mencatat sedikitnya 53 orang telah meninggal dunia di lubang bekas tambang batubara yang tersebar di berbagai wilayah Kalimantan Timur.

Korban terbaru adalah Muhammad Aji Wardana (29), warga Jalan Al Hasani RT 5, Kelurahan Bantuas, Kota Samarinda, yang dilaporkan meninggal dunia setelah tenggelam di lubang tambang milik PT Energi Cahaya Industritama (ECI), Sabtu (6/6/2026).

Kematian Muhammad Aji Wardana sekaligus menambah panjang daftar korban lubang tambang yang selama bertahun-tahun menjadi sorotan berbagai organisasi lingkungan dan masyarakat sipil.

Dinamisator JATAM Kaltim, Mustari Sihombing, menilai tragedi tersebut bukan sekadar kecelakaan biasa.

Menurutnya, peristiwa itu menunjukkan masih lemahnya pengawasan negara terhadap aktivitas pertambangan dan minimnya perlindungan terhadap masyarakat yang hidup di sekitar kawasan tambang.

"Korban ke-53 ini bukan takdir. Ini adalah konsekuensi dari tata kelola pertambangan yang abai terhadap keselamatan manusia," kata Mustari dalam pernyataan tertulisnya, Minggu (7/6/2026) diterima redaksi Arusbawah.co

PT ECI Disorot, Empat Korban Jiwa Tercatat di Area Tambang yang Sama

JATAM mencatat, Muhammad Aji Wardana merupakan korban keempat yang meninggal dunia di area tambang milik PT Energi Cahaya Industritama.

Sebelumnya, pada April 2014, seorang anak bernama Nadia Zaskia Putri yang masih berusia 10 tahun meninggal di lokasi yang sama.

Kemudian pada 8 November 2016, dua remaja yakni Dias Mahendra (15) dan Edi Kurniawan (15) juga dilaporkan tewas tenggelam di lubang tambang yang berada dalam konsesi perusahaan tersebut.

Bagi JATAM, berulangnya korban jiwa di area yang sama menjadi indikator adanya persoalan serius yang belum terselesaikan.

Mustari menilai perusahaan tidak bisa terus berlindung di balik alasan musibah ketika fakta menunjukkan lubang tambang yang sama telah berulang kali memakan korban.

Tag

MORE