Mereka menargetkan seluruh materi tersebut akan dirangkum menjadi album penuh pada 2026.
Perjalanan sebagai band kelas pekerja membawa tantangan tersendiri.
Jadwal latihan kerap sulit disatukan karena kesibukan masing masing personel. Selain itu, mereka juga menghadapi realitas industri musik nasional yang masih berpusat di Pulau Jawa.
"Kemudian kami terhambat dalam proses pembuatan lagu, karena dalam setiap lagu kami melakukan riset, pembacaan (isu) di daerah-daerah jadi proses-proses tersebut sebenarnya adalah nilai plus sekaligus tantangan," ujar La Dores.
Hal ini terbukti dari jarak antara single pertama dan single kedua, yakni setahun. Kemudian single kedua ke single ketiga membutuhkan waktu sekitar 3 tahun.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Monkey Mangkir tetap memandang musik sebagai ruang evakuasi diri dari rutinitas kerja yang melelahkan sekaligus medium menyuarakan kebenaran tentang kondisi daerah mereka.
“Musik bagi kami adalah wahana evakuasi, hiburan, sekaligus wadah mengumpulkan keresahan dan menyuarakan kebenaran tentang apa yang terjadi di tanah kita,” pungkas La Dores.
Profil Anggota Monkey Mangkir
Sam
- Lahir: 1994
- Asal: Balikpapan
- Posisi: Keyboard
La Dores
- Lahir: 1993
- Asal: Balikpapan
- Posisi: Vokal lead, gitar
Oniel Oktavian D
- Lahir: 1994
- Asal: Berau
- Posisi: Vokal, Gitar
Alle Hamzah
- Lahir: 1995
- Asal: Berau
- Posisi: Bass Vokal
Vino Margiono
- Lahir: 1992
- Asal: Simalungun
- Posisi: Drummer
(raf)
- Fitri dan Nenek Isa, Dua Generasi Perempuan Bugis yang Menenun Sejarah di Kampung Tenun Samarinda
- Menyusuri Nusantara, Menggali Cerita Tentang Harapan yang Tersimpan di Hutan
- Dari Garut ke Samarinda, Kisah Mansur Menapak Rupiah Lewat Jasa Jahit Sepatu Keliling
- "Kami Hanya Mencari Uang": Jeritan Pedagang Pasar Subuh yang Lapak Jualannya Dibongkar Hari Ini
Tag




