ARUSBAWAH.CO - Lubang tambang menganga, hutan runtuh, sungai tercemar, demokrasi terasa makin menjauh dari rakyat.
Realitas keras itu bukan sekadar berita bagi Monkey Mangkir, melainkan pengalaman hidup yang kemudian berubah menjadi lirik, nada, dan suara perlawanan.
Band rock asal Kalimantan Timur (Kaltim) tersebut menjadikan musik sebagai alat mengganggu kenyamanan kekuasaan sekaligus membangunkan kesadaran publik.
"Band ini dibentuk tahun 2019 dan berangkat dari keresahaan kami sendiri melihat masifnya aktivitas tambang dan kelapa sawit di Kalimantan Timur," tutur La Dores kepada Arusbawah.co, Senin (09/02/2025).
Monkey Mangkir membawa kegelisahan sosial, kritik ekologis, dan refleksi politik yang lahir dari pengalaman hidup sehari hari sebagai kelas pekerja.
Bagi mereka, musik bukan sekadar panggung ekspresi, tetapi medium perlawanan dan kesadaran.
"Lewat musik, kami berupaya menghasilkan karya seni yang punya daya gerak dan daya ganggu," terang pria asal Balikpapan ini.
Rilis Single Hutan Lindung, Hantam hingga Redam
Band gagasan La Dores dkk ini merilis single berjudul Hutan Limbung pada 2020 dan Hantam pada 2021.
Terbaru, mereka merilis Redam pada Januari 2026.
Setelah dua rilisan awal, perjalanan band sempat tersendat.
Para personel harus menghadapi realitas hidup sebagai pekerja yang memiliki tanggung jawab ekonomi dan keluarga.
"Dari 2021–2025 kami mengalami kevakuman karena beberapa personel bekerja dan berkeluarga," ungkapnya.
Vakum panjang itu bukan akhir.
Pada akhir 2025, Monkey Mangkir bangkit dengan formasi baru dan semangat yang lebih terstruktur.
Mereka mulai memperbaiki manajemen internal dan kembali merilis karya terbaru berjudul Redam.
“Bangkit lagi akhir 2025 dengan membentuk format baru. Dan akhirnya mulai merilis single baru lagi judulnya Redam,” kata La Dores.
Awal Nama Monkey Mangkir
Nama Monkey Mangkir sendiri lahir dari pengalaman personal para personel ketika melintasi jalan poros Sangatta Bengalon.
Mereka melihat kera berkeliaran di pinggir jalan, jauh dari habitat aslinya.
Fenomena itu memicu kritik hilangnya ruang hidup satwa akibat aktivitas pertambangan.
"Inspirasinya dari monyet atau kera yang ada di sepanjang jalan poros Sangatta-Bengalon. Habitat mereka sudah rusak oleh pembukaaan aktivitas tambang di area tersebut, sehingga monyet-monyet itu merepresentasikan kehilangan habitatnya," jelas La Dores.
Sejak awal, Monkey Mangkir berangkat dari keresahan terhadap kerusakan lingkungan dan dinamika sosial politik di Kalimantan Timur.
Dua dari tiga karya mereka merupakan alih wahana puisi karya La Dores yang menyuarakan kritik soal isu-isu ekologis hingga sosial politik.
Puisi tersebut diubah menjadi lagu dengan aransemen yang diciptakan bersama-sama. Mereka sepakat menciptakan karya yang bukan sekadar enak didengar, tetapi juga mampu mengusik kesadaran publik.
“Kami sepakat membuat karya yang punya daya gerak dan daya ganggu,” ujarnya.
Konsep daya gerak dimaknai sebagai harapan agar musik mereka mampu memantik kesadaran baru bagi pendengar.
"Daya ganggu itu maksudnya kami berharap karya-karya yang kami hasilkan bukan hanya jadi karya seni semata, tapi juga menjadi pengganggu bagi pelaksana pemerintah atau pihak-pihak terkait," jelasnya.

Musik Jadi Tools untuk Picu Percakapan
Musik, bagi Monkey Mangkir, adalah alat untuk memicu percakapan dan mempersoalkan keadaan.
Single Hutan Limbung menjadi salah satu representasi paling jelas dari sikap tersebut.
Lagu ini mengangkat isu ekstraktivisme batu bara, kerusakan hutan, hingga realitas sosial yang muncul dari aktivitas tambang.
Mereka menyoroti bagaimana lubang tambang tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga merenggut nyawa.
“Di Hutan Limbung, kami mengangkat dampak dari kerusakan lingkungan. Bukan hanya lingkungan yang rusak tapi juga ada nyawa yang dikorbankan,” kata La Dores.
Hantam melanjutkan garis kritik yang sama dengan fokus pada isu pencemaran laut akibat tumpahan minyak di Balikpapan serta ekspansi kelapa sawit di Kutai Timur. Lagu tersebut mengajak publik untuk menyadari konsekuensi dari aktivitas industri yang tidak terkendali.
Sementara Redam menghadirkan arah baru dengan fokus yang lebih tajam pada isu politik.
Lagu ini merefleksikan kegelisahan terhadap demokrasi yang dinilai kian tergerus serta fenomena dinasti politik yang semakin menguat.
"Dua lagu sebelumnya fokus ke isu lingkungan, di Redam ada kebaruan dengan mencoba mengangkat sosial politik."
Dalam proses kreatif, Monkey Mangkir bekerja secara kolektif. Ide awal lagu biasanya muncul dari satu personel kemudian dikembangkan bersama melalui diskusi dan kurasi internal.
“Ide datang dari satu orang kemudian dikerjakan atau dikurasi teman teman yang lain,” ujar La Dores.
Seluruh proses produksi dilakukan secara mandiri, mulai dari rekaman hingga pengolahan musik.
Hingga kini, Monkey Mangkir telah memiliki tujuh lagu meski baru merilis tiga single secara resmi.
Mereka menargetkan seluruh materi tersebut akan dirangkum menjadi album penuh pada 2026.
Perjalanan sebagai band kelas pekerja membawa tantangan tersendiri.
Jadwal latihan kerap sulit disatukan karena kesibukan masing masing personel. Selain itu, mereka juga menghadapi realitas industri musik nasional yang masih berpusat di Pulau Jawa.
"Kemudian kami terhambat dalam proses pembuatan lagu, karena dalam setiap lagu kami melakukan riset, pembacaan (isu) di daerah-daerah jadi proses-proses tersebut sebenarnya adalah nilai plus sekaligus tantangan," ujar La Dores.
Hal ini terbukti dari jarak antara single pertama dan single kedua, yakni setahun. Kemudian single kedua ke single ketiga membutuhkan waktu sekitar 3 tahun.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Monkey Mangkir tetap memandang musik sebagai ruang evakuasi diri dari rutinitas kerja yang melelahkan sekaligus medium menyuarakan kebenaran tentang kondisi daerah mereka.
“Musik bagi kami adalah wahana evakuasi, hiburan, sekaligus wadah mengumpulkan keresahan dan menyuarakan kebenaran tentang apa yang terjadi di tanah kita,” pungkas La Dores.
Profil Anggota Monkey Mangkir
Sam
- Lahir: 1994
- Asal: Balikpapan
- Posisi: Keyboard
La Dores
- Lahir: 1993
- Asal: Balikpapan
- Posisi: Vokal lead, gitar
Oniel Oktavian D
- Lahir: 1994
- Asal: Berau
- Posisi: Vokal, Gitar
Alle Hamzah
- Lahir: 1995
- Asal: Berau
- Posisi: Bass Vokal
Vino Margiono
- Lahir: 1992
- Asal: Simalungun
- Posisi: Drummer
(raf)
- Fitri dan Nenek Isa, Dua Generasi Perempuan Bugis yang Menenun Sejarah di Kampung Tenun Samarinda
- Menyusuri Nusantara, Menggali Cerita Tentang Harapan yang Tersimpan di Hutan
- Dari Garut ke Samarinda, Kisah Mansur Menapak Rupiah Lewat Jasa Jahit Sepatu Keliling
- "Kami Hanya Mencari Uang": Jeritan Pedagang Pasar Subuh yang Lapak Jualannya Dibongkar Hari Ini




