Feature

Monkey Mangkir, Band Kelas Pekerja dari Kaltim yang Gencar Suarakan Isu Ekologis hingga Politik

Musik bukan sekadar panggung ekspresi, tetapi medium perlawanan

Senin, 9 Februari 2026 20:36

PERSONEL BAND MONKEY MANKIR - Tiga personel band rock Kaltim, Monkey Mangkir/ IG @monkeymangkirr

Sejak awal, Monkey Mangkir berangkat dari keresahan terhadap kerusakan lingkungan dan dinamika sosial politik di Kalimantan Timur.

Dua dari tiga karya mereka merupakan alih wahana puisi karya La Dores yang menyuarakan kritik soal isu-isu ekologis hingga sosial politik.

Puisi tersebut diubah menjadi lagu dengan aransemen yang diciptakan bersama-sama. Mereka sepakat menciptakan karya yang bukan sekadar enak didengar, tetapi juga mampu mengusik kesadaran publik.

“Kami sepakat membuat karya yang punya daya gerak dan daya ganggu,” ujarnya.

Konsep daya gerak dimaknai sebagai harapan agar musik mereka mampu memantik kesadaran baru bagi pendengar. 

"Daya ganggu itu maksudnya kami berharap karya-karya yang kami hasilkan bukan hanya jadi karya seni semata, tapi juga menjadi pengganggu bagi pelaksana pemerintah atau pihak-pihak terkait," jelasnya. 

TAMPIL - Band Monkey Mangkir. Instagram/@monkeymangkirr)

 

Musik Jadi Tools untuk Picu Percakapan

Musik, bagi Monkey Mangkir, adalah alat untuk memicu percakapan dan mempersoalkan keadaan.

Single Hutan Limbung menjadi salah satu representasi paling jelas dari sikap tersebut.

Lagu ini mengangkat isu ekstraktivisme batu bara, kerusakan hutan, hingga realitas sosial yang muncul dari aktivitas tambang.

Mereka menyoroti bagaimana lubang tambang tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga merenggut nyawa.

“Di Hutan Limbung, kami mengangkat dampak dari kerusakan lingkungan. Bukan hanya lingkungan yang rusak tapi juga ada nyawa yang dikorbankan,” kata La Dores.

Hantam melanjutkan garis kritik yang sama dengan fokus pada isu pencemaran laut akibat tumpahan minyak di Balikpapan serta ekspansi kelapa sawit di Kutai Timur. Lagu tersebut mengajak publik untuk menyadari konsekuensi dari aktivitas industri yang tidak terkendali.

Sementara Redam menghadirkan arah baru dengan fokus yang lebih tajam pada isu politik.

Lagu ini merefleksikan kegelisahan terhadap demokrasi yang dinilai kian tergerus serta fenomena dinasti politik yang semakin menguat.

"Dua lagu sebelumnya fokus ke isu lingkungan, di Redam ada kebaruan dengan mencoba mengangkat sosial politik."

Dalam proses kreatif, Monkey Mangkir bekerja secara kolektif. Ide awal lagu biasanya muncul dari satu personel kemudian dikembangkan bersama melalui diskusi dan kurasi internal.

“Ide datang dari satu orang kemudian dikerjakan atau dikurasi teman teman yang lain,” ujar La Dores.

Seluruh proses produksi dilakukan secara mandiri, mulai dari rekaman hingga pengolahan musik.

Hingga kini, Monkey Mangkir telah memiliki tujuh lagu meski baru merilis tiga single secara resmi.

Tag

MORE