ARUSBAWAH.CO - Di pedalaman Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, masyarakat adat Dayak Iban Sadap menjaga tradisi bukan lewat catatan tertulis, melainkan melalui helai-helai kain tenun.
Bagi komunitas ini, menenun bukan sekadar aktivitas ekonomi atau kerajinan tangan, melainkan bagian dari identitas, spiritualitas, serta cara merawat hubungan dengan alam dan leluhur.
Nilai tersebut kembali diperlihatkan melalui Festival Tenun Iban Sadap yang pertama kali digelar pada pertengahan Desember 2025.
Festival ini menjadi ruang berbagi pengetahuan, sekaligus penanda bahwa tradisi menenun masih hidup dan diwariskan lintas generasi.
“Tenun adalah simbol identitas dan ekspresi nilai kehidupan masyarakat adat Dayak Iban, yang sarat makna spiritual, sosial, dan kearifan lokal,” ujar Magareta Mala, salah satu penggerak festival dalam keterangannya diterima redaksi Arusbawah.co
.webp)
Satu Kain, Banyak Makna Leluhur
Tenun Iban Sadap memiliki kekhasan pada motif dan proses pembuatannya.
Setiap pola memuat cerita tentang alam, manusia, dan roh leluhur.
Mala menjelaskan, terdapat empat jenis tenun Iban, yakni kebat, sungkit, pileh, dan sidan.
Di antaranya, tenun kebat memiliki nilai sakral dan wajib dimiliki.
“Tenun kebat digunakan dalam berbagai fase kehidupan, mulai dari kelahiran hingga suasana sukacita dan duka. Motifnya bisa berupa manusia, hewan, hingga simbol-simbol tertentu yang punya makna khusus,” jelasnya.
Proses menenun dilakukan secara tradisional dan membutuhkan ketelitian tinggi, sekaligus kesabaran.
Seiring meningkatnya minat publik terhadap wastra nusantara, komunitas Iban Sadap juga mulai membuka paket tur edukasi tenun.
Program ini dirancang fleksibel, dari kunjungan singkat untuk dokumentasi hingga tinggal lebih lama bagi mereka yang ingin memahami tenun secara menyeluruh.
“Pernah ada mahasiswa dari Kuala Lumpur yang tinggal cukup lama untuk belajar. Ia pulang membawa pengalaman dan hasil tenun buatannya sendiri,” kata Mala.
Dari Alam, Kembali ke Alam

Bagi masyarakat adat Iban Sadap, tenun tidak bisa dilepaskan dari alam.
Seluruh bahan baku berasal dari lingkungan sekitar, mulai dari bambu untuk alat tenun hingga pewarna alami dari daun, akar, dan kulit kayu.
Karena itu, menjaga tradisi berarti juga menjaga hutan dan wilayah adat.
“Kalau wilayah adat hilang, tradisi menenun juga ikut hilang. Banyak tanaman pewarna berasal dari hutan di wilayah adat kami,” ujar Herkulanus Sutomo dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kapuas Hulu.
Menurutnya, Festival Tenun Iban Sadap menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya dan lingkungan berjalan beriringan.
Komitmen ini pula yang mendorong masyarakat adat Iban Sadap terus memperjuangkan pengakuan dan perlindungan wilayah adat, termasuk melalui pengesahan RUU Masyarakat Adat.
Bagi mereka, keberlanjutan budaya hanya mungkin jika alam tetap terjaga.
Rumah Panjang dan Regenerasi Penenun Muda
Tradisi menenun hidup subur di rumah panjang, pusat kehidupan sosial masyarakat Iban Sadap.
Di ruang bersama yang disebut ruai, perempuan dari berbagai usia menenun bersama, saling menguatkan dan memotivasi.
Aktivitas ini bukan hanya soal produktivitas, tetapi juga tentang kebersamaan.
Regenerasi pun mulai terlihat. Salah satunya Yosefa Kiki Nayah Sari, penenun muda yang tetap meluangkan waktu menenun di sela kesibukan bekerja.
“Kalau menenun ramai-ramai di ruai, rasanya seperti berlomba tapi saling menyemangati,” ujarnya.
Bagi komunitas Iban Sadap, kehadiran penenun muda menjadi harapan masa depan.
“Kalau semakin banyak anak muda terlibat, nilai wastra warisan leluhur akan tetap terjaga,” tegas Mala.
Festival Tenun Iban Sadap bukan sekadar perayaan budaya. Ia menjadi ruang perlawanan sunyi untuk menjaga identitas, alam, dan pengetahuan leluhur—dirajut perlahan, benang demi benang. (pra)




