Arus Publik

Orang Muda Desak Hentikan Solusi Palsu di Tengah Krisis Iklim yang Kian Brutal

Kamis, 18 Desember 2025 20:37

ILUSTRASI - Di tengah situasi yang kian genting itu, generasi muda Indonesia mulai bersuara lebih keras/ Pexels

ARUSBAWAH.CO -  Air bah yang menembus rumah warga, longsor yang menghapus jalan desa, hingga banjir yang merobohkan bangunan kini bukan lagi peristiwa langka.

Di banyak wilayah Indonesia, bencana iklim hadir berulang, semakin ekstrem, dan meninggalkan kecemasan mendalam bagi ribuan keluarga yang hidup di wilayah rawan.

Di tengah situasi yang kian genting itu, generasi muda Indonesia mulai bersuara lebih keras.

Mereka menilai, krisis iklim terus memburuk bukan semata karena faktor alam, tetapi juga akibat kebijakan dan pendekatan penanganan yang dinilai melenceng dari akar persoalan.

Orang muda pun menuntut dihentikannya apa yang mereka sebut sebagai false solutions atau solusi palsu dalam penanganan krisis iklim.

DESAKAN - Orang muda pun menuntut dihentikannya apa yang mereka sebut sebagai false solutions atau solusi palsu dalam penanganan krisis iklim./ Pexels

 

Solusi Cepat yang Menjauh dari Akar Masalah

Fathan Mubina (25), Geographic Information System Analyst dari Trend Asia, menyebut solusi palsu sebagai distraksi teknokratis yang justru memberi ruang bagi industri perusak lingkungan untuk terus beroperasi.

“False solutions adalah cara-cara yang terlihat canggih dan modern, tapi pada praktiknya membiarkan korporasi tetap menghasilkan emisi dan merusak hutan, sambil mengabaikan krisis yang nyata di lapangan,” ujar Fathan.

Ia menjelaskan, solusi-solusi seperti pasar karbon, debt swap, Carbon Capture and Storage (CCS), hingga Tropical Forest Forever Facility (TFFF) sering dipromosikan sebagai jalan keluar.

Namun, di balik narasi hijau tersebut, industri fosil tetap berjalan, sementara masyarakat di wilayah terdampak terus menanggung dampaknya.

“Banjir rob, intrusi air laut, dan amblasnya tanah di Demak, Jepara, Pekalongan, Semarang hingga Cirebon tetap terjadi. Ratusan hektar lahan pertanian hilang, ribuan keluarga terpaksa direlokasi. Solusi-solusi itu tidak menghentikan kenyataan tersebut,” tegasnya.

Menurut Fathan, pendekatan berbasis pasar dan teknologi hanya akan bermakna jika dibarengi perubahan kebijakan struktural.

Tag

MORE