Ia mengaku masih bisa melihat jelas meski tak lagi memakai kacamata.
“Mata masih terang,” ujarnya sambil tersenyum bangga.

Nenek Isa telah punya 12 cucu, menyebar dari Jambi hingga Palembang.
Meski anak-cucunya tersebar jauh, ia memilih tetap tinggal di rumah panggungnya.
“Saya tetap tenun. Ini hidup saya,” katanya singkat.
Lebih lanjut, Kampung Tenun di Samarinda Seberang bukan sekadar pemukiman biasa.
Sejak 2012, kawasan ini ditetapkan sebagai destinasi wisata berbasis kerajinan.
Di sinilah budaya Bugis yang dibawa dari Sulawesi sejak zaman Kesultanan Gowa tetap terjaga lewat aktivitas menenun.
Sarung Samarinda, atau dikenal juga sebagai Tajong Samarinda, bukan hanya cinderamata khas kota Tepian.
Sarung samarinda adalah simbol peradaban lokal, dihasilkan dari alat tenun bukan mesin (ATBM) dan alat tenun duduk.
Fungsi awalnya untuk ritual sakral dan ibadah, kini sarung itu menjadi identitas visual Samarinda. (Irwan)

Tag




