ARUSBAWAH.CO - Di tengah arus zaman yang terus berubah, dua perempuan dari generasi berbeda menjaga denyut warisan budaya Samarinda yaitu sarung tenun khas Kota Samarinda.
Satu mendirikan galeri tenun yang modern, satu lagi masih setia menenun dengan tangan renta di rumah panggung tepian Sungai Mahakam.
Keduanya terikat dalam benang yang sama cinta terhadap warisan suku Bugis yang tak ingin putus.
Cerita Fitri dan Rumah Tenun Rahmadina, Galeri yang Menghimpun Para Penenun
Fitri (33) adalah pemilik galeri Rumah Tenun Rahmadina yang berdiri di Jalan Pangeran Bendahara, Kelurahan Tenun, Kecamatan Samarinda Seberang.
Di balik deretan kain-kain warna-warni yang menghiasi dinding galerinya, tersimpan kerja keras dan sistem kerja sama yang telah ia rintis bersama para penenun di Kampung Tenun.
“Ini bukan sekadar toko, tapi tempat kumpul sarung tenun. Kami jadi semacam pengepul dari para pengrajin,” jelas Fitri saat ditemui redaksi Arusbawah.co pada Sabtu (10/5/2025).
Namun Fitri bercerita perjalanan membangun usaha galeri tenun tidaklah selalu berjalan dengan mulus.
Ia pernah mencoba membiayai penuh para penenun dengan menyediakan modal berupa benang dan bahan.
Tapi menurut Fitri cara itu tidak bertahan lama dan bukan solusi.
“Saya pernah modalin penuh para penenun, tapi malah dijual ke pihak lain. Jadi sekarang mereka saya beri kebebasan, mereka modal sendiri, tapi barang yang masuk ke saya langsung saya bayar,” ujarnya.
Sistem modal sendiri, menurut Fitri, justru membuat penenun lebih mandiri.
Mereka tidak perlu menunggu sarung laku dulu baru mendapat uang.
“Saya ambil barang, langsung bayar. Mereka bisa mutar modal sendiri. Nggak bergantung ke saya,” tambahnya.
Ada beberapa yang masih ia modali, tapi hanya yang benar-benar dipercaya.
Sisanya bekerja mandiri. Relasi bisnis ini, menurutnya, lebih sehat.
“Yang penting itu kepercayaan dan pembayaran lancar,” lanjutnya.

Fitri mengungkapkan bahwa Galeri Tenun miliknya telah berdiri hampir satu dekade.
Fitri mewarisi usaha dari orang tuanya, yang dulu hanya menenun dan membuka toko kecil.
Setelah sang ibu wafat, Fitri menggali pengetahuan tentang pemasaran digital dari media sosial sampai marketplace.
Ia pun mendaftarkan merek Rumah Tenun Rahmadina, nama yang ia ambil dari nama ibunya, agar tidak bisa diklaim pihak lain.
“Saya jual online di Instagram, Facebook, Shopee. Kalau offline ya di galeri ini. Kadang ada yang ambil langsung buat dijual lagi. Tapi kami tidak buka cabang,” katanya.
Harga sarung tenun yang ia jual bervariasi, mulai dari Rp300 ribu hingga Rp700 ribu, tergantung bahan dan motif.
Cerita Isa: Nenek Penjaga Tradisi yang Tetap Menenun Meski Usia 73 Tahun
Tak jauh dari galeri Fitri, di rumah panggung kayu yang berdiri di tanah pasang surut Mahakam, tinggal Isa (73), seorang penenun yang telah menekuni profesi ini sejak usia belia.
“Saya bugis. Dulu umur lima tahun ikut bapak naik perahu layar ke Samarinda,” tuturnya pelan, sesekali tertawa kecil mengenang masa lalu.
Isa masih menenun dengan gedogan, alat tenun duduk sederhana warisan leluhur.
Setiap lembar sarung ia kerjakan dalam waktu tiga hari, asalkan tidak ada acara keluarga.
Kadang sarung itu laku dalam hitungan hari, kadang menumpuk menunggu pembeli.
“Kalau ada pesanan, saya bikin. Kalau tidak, ya bikin sendiri, nanti dikumpulkan ke pengepul,” katanya.
Ia mengaku masih bisa melihat jelas meski tak lagi memakai kacamata.
“Mata masih terang,” ujarnya sambil tersenyum bangga.

Nenek Isa telah punya 12 cucu, menyebar dari Jambi hingga Palembang.
Meski anak-cucunya tersebar jauh, ia memilih tetap tinggal di rumah panggungnya.
“Saya tetap tenun. Ini hidup saya,” katanya singkat.
Lebih lanjut, Kampung Tenun di Samarinda Seberang bukan sekadar pemukiman biasa.
Sejak 2012, kawasan ini ditetapkan sebagai destinasi wisata berbasis kerajinan.
Di sinilah budaya Bugis yang dibawa dari Sulawesi sejak zaman Kesultanan Gowa tetap terjaga lewat aktivitas menenun.
Sarung Samarinda, atau dikenal juga sebagai Tajong Samarinda, bukan hanya cinderamata khas kota Tepian.
Sarung samarinda adalah simbol peradaban lokal, dihasilkan dari alat tenun bukan mesin (ATBM) dan alat tenun duduk.
Fungsi awalnya untuk ritual sakral dan ibadah, kini sarung itu menjadi identitas visual Samarinda. (Irwan)





