“Yang penting itu kepercayaan dan pembayaran lancar,” lanjutnya.

Fitri mengungkapkan bahwa Galeri Tenun miliknya telah berdiri hampir satu dekade.
Fitri mewarisi usaha dari orang tuanya, yang dulu hanya menenun dan membuka toko kecil.
Setelah sang ibu wafat, Fitri menggali pengetahuan tentang pemasaran digital dari media sosial sampai marketplace.
Ia pun mendaftarkan merek Rumah Tenun Rahmadina, nama yang ia ambil dari nama ibunya, agar tidak bisa diklaim pihak lain.
“Saya jual online di Instagram, Facebook, Shopee. Kalau offline ya di galeri ini. Kadang ada yang ambil langsung buat dijual lagi. Tapi kami tidak buka cabang,” katanya.
Harga sarung tenun yang ia jual bervariasi, mulai dari Rp300 ribu hingga Rp700 ribu, tergantung bahan dan motif.
Cerita Isa: Nenek Penjaga Tradisi yang Tetap Menenun Meski Usia 73 Tahun
Tak jauh dari galeri Fitri, di rumah panggung kayu yang berdiri di tanah pasang surut Mahakam, tinggal Isa (73), seorang penenun yang telah menekuni profesi ini sejak usia belia.
“Saya bugis. Dulu umur lima tahun ikut bapak naik perahu layar ke Samarinda,” tuturnya pelan, sesekali tertawa kecil mengenang masa lalu.
Isa masih menenun dengan gedogan, alat tenun duduk sederhana warisan leluhur.
Setiap lembar sarung ia kerjakan dalam waktu tiga hari, asalkan tidak ada acara keluarga.
Kadang sarung itu laku dalam hitungan hari, kadang menumpuk menunggu pembeli.
“Kalau ada pesanan, saya bikin. Kalau tidak, ya bikin sendiri, nanti dikumpulkan ke pengepul,” katanya.
Tag



