Sikap melunak ini tentu berbeda dengan kondisi beberapa hari lalu.
Pada awal Mei, Sudirman sempat marah besar kepada salah satu anggota Komisi IV DPRD Kaltim, dr. Andi.
Saat itu, pihak DPRD menyebut kasus bayi Syahdu ini sebagai risiko medis biasa, sebelum rumah sakit selesai melakukan pemeriksaan internal.
Mengenai sikap kerasnya di masa lalu, Sudirman mengakuinya secara terbuka.
Ia menjelaskan bahwa saat itu ia merespons keras karena merasa pihak DPRD terkesan buru-buru membela rumah sakit.
"Keras memang saya keras kemarin waktu merespons pernyataan dr. Andi. Karena kita melihat saat itu pihak DPRD lebih condong membela AWS. Makanya respons saya keras. Tapi kalau untuk hasil audit yang sekarang sudah keluar dari internal manajemen AWS, mereka sudah menyampaikan apa saja penyebabnya," jelas Sudirman.
- RSUD Aws Beberkan Audit Kasus Bayi Syahdu dalam Pertemuan Tertutup dengan Kuasa Hukum, Apa Hasilnya?
- Hasil Audit Dugaan Kelalaian Medis Sudah Keluar, Ibu Korban: Anak Saya yang Cacat, Kenapa Dewan yang Didahulukan?'
- Hasil Audit Dugaan Kelalaian Medis di RS Pemerintah Sudah Keluar, Pihak Rumah Sakit Akan Surati Dewan
Tolak Jalur Hukum Demi Kesembuhan Anak
Lebih lanjut, Sudirman menegaskan bahwa fokus paling penting saat ini adalah mengembalikan fungsi tangan Ananda Syahdu agar bisa bergerak normal lagi melalui terapi rutin (fisioterapi).
Menurutnya, menyembuhkan tangan si anak jauh lebih mendesak daripada menghabiskan energi untuk saling tuntut di pengadilan.
Ia juga tahu bahwa publik ingin agar kasus ini dibawa ke jalur hukum untuk mencari siapa yang bersalah.
Namun, sebagai pengacara, ia harus melihat nasib dan kondisi keluarga korban secara nyata di lapangan.
Tag



