"Jadi narasi yang coba dibuat sebenarnya, harusnya bukan soal rencana aksi tanggal 21, tetapi berfokuslah pada ide dan gagasan atau termasuk pada kritik-kritik yang disampaikan oleh publik. Jadi lebih baik di situ yang dikomentari. Itu yang mesti dijawab secara terbuka oleh tim gubernur atau tim pemerintah," jelas Castro.
Lalu, spesifik pada komentar Bambang Widjojanto yang menyampaikan bahwa aksi 21 April ini tak lepas dari isu balas dendam politik, Castro nilai tidak lah tepat.
"Yang keliru itu yang dibilang Bambang. Seolah-olah aksi 21 itu dikait-kaitkan dengan Pilgub, orang-orang yang tak bisa move-on. Sebenarnya kan tak ada masalah, dalam tradisi politik, orang-orang yang kalah di suatu pertarungan elektoral, ia boleh beroposisi kan? Justru oposisi sehat. Harusnya dia pahami oposisi adalah hal yang wajar bahkan sehat untuk demokrasi di tingkat lokal," jelasnya.
Hal lain yang ia sayangkan adalah, dengan adanya komentar dari Tim Ahli ini, membuat dirinya berpikir ada semacam upaya untuk memecah konsolidasi masyarakat yang akan melakukan unjuk rasa.
"Yang kita sayangkan, ini kan jadinya semacam cara untuk memecah konsolidasi rencana aksi tanggal 21 kan? Biarkan lah kebebasan publik untuk kritik, menyampaikan pendapat, ekspresikan dirinya secara terbuka, termasuk dalam agenda demonstrasi berjalan sedemikian rupa. Jangan kemudian coba dibuat narasi tanding, seolah-olah apa yang dilakukan adalah keliru," pungkasnya. (pra)
- Biro Umum Kaltim: 'Memprihatinkan Plafon Jebol, Atap Jadi Kolam', Itu Ungkapan Soal Belanja Fasilitas Rp25 Miliar Gubernuran
- Fenomena Video Ucapan Terima Kasih Sekolah di Kaltim, Akademisi: Semacam Relasi Kuasa yang Menyandera
- Insentif dan Umrah Gratis Pemprov Kaltim, Marbot Masjid di Samarinda Akui Manfaatnya Terasa Nyata
Tag




