Garis pantai terus terkikis hingga mendekati kawasan permukiman warga.
Yang lebih mengkhawatirkan, lokasi tersebut merupakan satu-satunya sumber air bersih bagi masyarakat setempat.
Apabila abrasi terus terjadi, sumber air bersih itu dikhawatirkan ikut hilang.
"Nah itu yang kami minta kepada Pemprov supaya dilakukan penurapan. Kalau tidak segera ditangani, kami khawatir sumber air bersih masyarakat akan hilang," ujarnya.
Namun usulan tersebut hingga kini masih terkendala keterbatasan anggaran.
Telekomunikasi Masih Lemot
Tak hanya jalan dan air bersih, persoalan jaringan komunikasi juga menjadi perhatian.
Menurut Syarifatul, masih banyak titik di Berau yang memiliki kualitas sinyal telekomunikasi buruk.
Padahal jaringan komunikasi sudah menjadi kebutuhan utama masyarakat, terutama untuk pendidikan, pelayanan publik hingga mendukung sektor pariwisata.
"Jaringan telekomunikasi di beberapa spot masih lemot. Itu juga harus menjadi perhatian pemerintah," katanya.
Ia berharap pembangunan di Berau tidak hanya terpusat di kawasan perkotaan, tetapi juga menjangkau kampung-kampung yang selama ini masih tertinggal.
Menurutnya, pemerataan pembangunan menjadi kunci agar masyarakat di wilayah pedalaman maupun kepulauan dapat menikmati pelayanan dasar yang sama seperti daerah lain.
Karena itu, ia kembali mendorong agar Bantuan Keuangan bagi anggota DPRD dapat dihidupkan kembali sehingga aspirasi pembangunan dari daerah pemilihan bisa lebih cepat direalisasikan.
"Enggak adanya Bankeu ini membuat kami juga punya banyak keterbatasan. Mudah-mudahan ke depan bisa dibuka lagi supaya kami bisa berbagi dan membantu kebutuhan masyarakat di daerah," tutupnya.
(sobizz/raf)
- Syarifatul Sya'diah Pastikan Seluruh Temuan BPK Ditindaklanjuti sebelum Lanjutkan Pembahasan Pertanggungjawaban APBD 2025.
- Syarifatul Sya'diah Minta Bagi Hasil Wisata Pulau Kakaban Diperjelas, Berau Harus Ikut Menikmati
- Kaltim Kejar Sangkulirang-Mangkalihat Jadi Geopark Pertama Bumi Etam Raih Pengakuan UNESCO
Tag




