ARUSBAWAH.CO - Nur Ningsih (48) sempat yakin anaknya akan melanjutkan sekolah di SMP Negeri 14 Samarinda.
Rumah mereka berada di Kelurahan Rawa Makmur, Kecamatan Palaran, dan sekolah itu merupakan SMP negeri terdekat di wilayah tersebut.
Namun harapan itu pupus setelah dua jalur penerimaan yang dicoba sama-sama berujung penolakan.
Pada akhirnya, ia harus mencari sekolah hingga ke Samarinda Seberang agar anaknya tidak kehilangan kesempatan bersekolah.
Nur Ningsih (48) merupakan salah satu orang tua yang ikut menyampaikan keluhannya terkait pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026.
Ia mengaku proses pendaftaran yang semestinya mempermudah masyarakat justru membuat keluarganya harus berulang kali mencari sekolah lain hingga akhirnya memperoleh kursi di SMP Negeri 36 Samarinda yang berjarak sekitar 7,8 kilometer dari rumah.
Anaknya merupakan lulusan SD Negeri 001 Palaran.
Sebagai warga yang tinggal di kawasan tersebut, Nur berharap anaknya dapat melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 14 Samarinda.
Jarak dari rumahnya ke sekolah tersebut hanya sekitar satu kilometer.
Saat tahapan SPMB dibuka, ibu dua anak ini lebih dulu mencoba mendaftarkan anaknya melalui jalur afirmasi.
Namun sistem menolak pendaftaran tersebut.
"Pertama daftar jalur afirmasi ditolak karena desil lima," ujar Nur saat ditemui di Gedung DPRD Samarinda, Rabu (1/7/2026).
Ia kemudian mencoba lagi lewat jalur domisili.
Nur berharap kesempatan kedua itu dapat membuka jalan bagi anaknya untuk tetap bersekolah di lingkungan tempat tinggalnya.
Harapan itu kembali pupus.
Sistem kembali menolak pendaftaran dengan alasan kuota telah terpenuhi dan jarak rumah tidak lagi masuk dalam batas penerimaan.
"Daftar lagi ditolak juga karena kuotanya penuh. Katanya jaraknya jauh, tidak masuk," katanya.
- Lebih dari 100 Orang Tua Mengadu soal SPMB Samarinda, Banyak Anak Belum Dapat Sekolah Negeri
- Perumdam Tirta Kencana Pastikan Tarif Air Tak Naik Meski Biaya Operasional Meningkat Akibat Pemadaman Listrik
- Rumah Didatangi Pihak Aliansi soal Konten Dianggap Menyinggung, Sudarno: Saya Merdeka dalam Berpikir




