Berulang Kali Mencari Sekolah Lain
Kegagalan di SMP Negeri 14 membuat Nur tak punya banyak pilihan.
Sekolah negeri lain di Kecamatan Palaran berada lebih jauh dari rumahnya di Kelurahan Rawa Makmur.
Karena itu, ia mulai mengalihkan harapan ke sejumlah SMP negeri di kawasan Samarinda Seberang yang dinilainya lebih memungkinkan dijangkau.
Proses itu pun tidak langsung membuahkan hasil.
Beberapa kali pendaftaran kembali gagal sebelum akhirnya nama anaknya muncul sebagai peserta yang diterima.
"Awalnya hanya daftar ke SMP 14 Palaran. Setelah itu saya coba tiga sekolah di Samarinda Seberang. Baru di pilihan berikutnya diterima di SMP 36," tuturnya.
Sekolah itu baru menjadi pilihan keenam setelah ia berulang kali mencoba peruntungan.
Dua kali ia mendaftarkan anaknya ke SMP Negeri 14 melalui jalur afirmasi dan domisili, tetapi sama-sama gagal.
Setelah itu, ia terus mencari sekolah lain hingga akhirnya nama anaknya dinyatakan diterima di SMP Negeri 36 Samarinda.
Bagi Nur, diterimanya sang anak di sekolah negeri tentu menjadi kabar baik.
Namun di balik itu muncul persoalan baru yang harus dihadapi setiap hari.
Jarak tempuh menuju SMP Negeri 36 mencapai sekitar 7,8 kilometer dari rumah mereka.
"Jauh (jaraknya). Sekitar 7,8 kilometer dari rumah," kata Nur.
Jarak tersebut jauh lebih panjang dibandingkan jika anaknya diterima di SMP Negeri 14 yang berada di wilayah domisilinya sendiri.
Sebagai ibu rumah tangga sekaligus pekerja serabutan, Nur mengaku kondisi tersebut menjadi beban tersendiri.
Selain harus memikirkan biaya transportasi, ia juga khawatir terhadap waktu tempuh anaknya menuju sekolah setiap hari.
Tag



