Arus Publik

SPMB

Rumah Dekat SMPN 22 Samarinda Tapi Tak Lolos Jalur Domisili? Ini Penjelasan Kepala Sekolah

TAMPAK DEPAN - SMP Negeri 22 Samarinda/Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO -  Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 di Kota Samarinda telah usai. 

Hari pertama masuk sekolah sekaligus pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi siswa baru di Kota Samarinda resmi dimulai pada Senin (13/7/2026).

Namun, polemik jalur domisili masih menyisakan cerita bagi sebagian orang tua.

Tak sedikit calon siswa yang tinggal sangat dekat dengan sekolah tujuan justru gagal diterima.

Sebaliknya, siswa yang secara kasat mata dinilai lebih jauh malah berhasil lolos.

Fenomena itu juga terjadi di SMP Negeri 22 Samarinda.

Kepala SMP Negeri 22 Samarinda, Febianti Violeta, mengungkapkan, usai pengumuman jalur domisili pada 29 Juni lalu, sekolahnya beberapa kali didatangi Tim Satgas SPMB Kota Samarinda.

Mereka menindaklanjuti sejumlah aduan masyarakat yang mempertanyakan hasil seleksi.

"Banyak yang merasa rumahnya dekat dengan sekolah, kartu keluarganya juga sesuai alamat, tapi kok malah terlempar ke sekolah lain," kata Febianti, Senin (13/7/2026).

Menurutnya, salah satu contoh yang paling banyak dipersoalkan berasal dari kawasan Jalan Dr. Sutomo.

Secara kasat mata, lokasi tersebut memang berada sangat dekat dengan SMP Negeri 22.

Namun dalam hasil seleksi, banyak calon siswa dari kawasan itu justru tidak diterima di pilihan pertama.

Sebagian besar bahkan dialihkan ke pilihan berikutnya, terutama ke SMP Negeri 7 yang terletak di Jalan Kadrie Oening.

Sebaliknya, calon siswa yang berasal dari kawasan Jalan S. Parman justru cukup banyak yang lolos di SMP Negeri 22.

Situasi itu sempat memunculkan pertanyaan dari masyarakat.

Bahkan ada yang menduga panitia sekolah melakukan kesalahan dalam proses seleksi.

"Ada beberapa laporan dari masyarakat yang agak kecewa. Dia merasa alamatnya dekat dengan sekolah, alamatnya dekat, terus kartu keluarganya juga sesuai dengan alamat tersebut, tapi kok malah terlempar ke sekolah lain," bebernya.

 

Sistem yang Sepenuhnya Bekerja

Febianti memastikan seluruh proses penerimaan di sekolahnya berjalan sesuai petunjuk teknis dan standar operasional yang telah ditetapkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Menurutnya, hasil seleksi sepenuhnya ditentukan oleh sistem.

Ia menjelaskan, perubahan mekanisme laman SPMB tahun ini menjadi penyebab utama munculnya kebingungan di masyarakat.

Jika tahun sebelumnya laman SPMB menggunakan rute atau jarak tempuh sebagai dasar penghitungan, kini sistem menggunakan radius berdasarkan titik garis lurus menuju sekolah.

Perubahan metode itu membuat hasil seleksi berbeda dengan persepsi masyarakat yang selama ini mengukur kedekatan berdasarkan akses jalan.

"Kalau dilihat kasat mata memang dekat. Tapi sekarang sistem mengambil radius titik garis terdekat, bukan lagi rute perjalanan seperti tahun lalu," ujarnya.

Karena belum memahami perubahan tersebut, banyak orang tua kemudian melapor ke Satgas SPMB.

"Mungkin itu yang menyebabkan sistemnya berubah juga, mereka juga kurang paham dengan sistem itu sehingga mereka mengadu ke satgas, kemudian cross check ke sekolah," ungkapnya.

Namun setelah dilakukan pemeriksaan bersama, sekolah dapat menunjukkan bahwa seluruh hasil penerimaan memang murni berasal dari sistem.

"Kami bisa membuktikan bahwa memang sistem yang bekerja, bukan panitia. Sama sekali tidak ada kecurangan. Kami bekerja sesuai juknis, SOP, dan aturan yang berlaku," tegasnya.

Meski diwarnai sejumlah protes, Febianti menilai pelaksanaan SPMB di SMP Negeri 22 secara umum berjalan lancar.

Hambatan yang muncul lebih banyak berasal dari proses adaptasi terhadap aplikasi baru.

"Sebenarnya perubahan aplikasi ini tidak menjadi hambatan bagi kami di sekolah. Yang masih membutuhkan penyesuaian justru masyarakat yang belum memahami mekanisme sistem yang baru," katanya.

Kuota Diturunkan Demi Kenyamanan Belajar

Pada tahun ajaran baru 2026/2027, SMP Negeri 22 menerima sebanyak 352 siswa.

Jumlah tersebut terbagi dalam 11 rombongan belajar (rombel) dengan masing-masing kelas berisi 32 siswa.

Jumlah itu justru lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya.

Jika sebelumnya satu kelas diisi hingga 35 siswa, tahun ini sekolah memilih mengurangi kapasitas agar proses belajar lebih nyaman.

"Tahun lalu satu kelas 35 siswa. Tahun ini kami sesuaikan menjadi 32 siswa sesuai kapasitas ruangan supaya anak-anak lebih nyaman dan tidak terlalu sesak," ujar Febianti.

Seluruh siswa baru itu kini tengah mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Kegiatan berlangsung selama lima hari mengikuti pedoman dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Sekolah Siap Ikuti Evaluasi SPMB

Pemerintah Kota Samarinda saat ini masih melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan SPMB tahun ini menyusul banyaknya masukan dari masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Febianti menyatakan pihak sekolah siap mengikuti seluruh kebijakan yang nantinya ditetapkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Menurutnya, sekolah hanya menjalankan aturan yang telah ditetapkan pemerintah.

"Kami berada di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, jadi tentu kami akan mengikuti apa pun hasil evaluasi dan kebijakan yang nantinya ditetapkan," katanya.

Baginya, evaluasi diperlukan agar pelaksanaan SPMB pada tahun berikutnya dapat berjalan lebih baik sekaligus meminimalkan kesalahpahaman masyarakat terhadap sistem seleksi yang digunakan.

Sebagai informasi tambahan, pelaksanaan SPMB jenjang SMP di Kota Samarinda tahun ajaran 2026/2027 dibagi ke dalam empat rayon berdasarkan wilayah kecamatan.

Khusus SMP Negeri 22 Samarinda yang berlokasi di Jalan Pahlawan, masuk dalam kategori Rayon 4 yang meliputi Kecamatan Samarinda Ulu dan Sungai Kunjang bersama SMP Negeri 1, 4, 5, 7, 10, 24, 25, 28, 38, 39, 40, dan 50.

Secara keseluruhan, Pemerintah Kota Samarinda menyiapkan 14.512 kursi SMP untuk 13.079 lulusan SD tahun ini. Jumlah tersebut terdiri atas 10.053 kursi di 50 SMP negeri dan 4.459 kursi di SMP swasta.

Berdasarkan jadwal SPMB tahun ajaran 2026/2027, penerimaan siswa SMP negeri di Samarinda dibagi dalam dua tahap.

Tahap pertama meliputi jalur afirmasi, mutasi, dan prestasi yang berlangsung pada 11-17 Juni dengan pengumuman pada 22 Juni.

Sementara tahap kedua merupakan jalur domisili yang dibuka pada 22-26 Juni dan diumumkan pada 29 Juni. Seluruh peserta yang diterima melakukan daftar ulang pada 1-3 Juli 2026.

(raf)

 

Tag

MORE