Berdiri di ambang pintu bangunan yang dinding luarnya telah menjadi arang namun bagian dalamnya masih menyisakan tumpukan rak telur yang selamat Ibu Aji menunjukkan keteguhan hati yang luar biasa.
Meski rumah dan gudangnya terdampak, ia menolak untuk terus meratapi nasib.
Ia justru menyoroti rekan sesama pedagang lain yang nasibnya jauh lebih pilu karena lapak usaha mereka rata dengan tanah.
"Aku enggak maksudnya lari ke situ (bantuan), karena ada yang paling parah daripada aku. Toko-toko di ujung sana itu barangnya habis semua. Yang masuk barang sini tempatnya memang semua," tuturnya dengan tulus.
Kini, wajah Pasar Segiri pasca-kebakaran memperlihatkan sisi lain dari sebuah perjuangan.
Meski bangunan toko telah hangus tak tersisa, para pedagang menolak menyerah pada keadaan.
Dengan bermodalkan tenda-tenda darurat seadanya, mereka tetap menggelar dagangan di atas puing-puing bangunan demi menyambung hidup.
"Mereka tetap jualan di tempat yang sama karena mau cari pencaharian makanan. Ya itu sudah begitu, langsung pakai tenda, baru ada juga langganannya cari," tutup Ibu Aji Rasna.
Kisah mahasiswa yang mendekap erat berkas kuliahnya di tengah ledakan dan kepungan api ini kini menjadi simbol bagi warga Pasar Segiri.
Bahwa harta benda mungkin bisa terbakar di luar, namun harapan dan cita-cita yang didekap erat di dada akan tetap utuh untuk membangun kembali kehidupan dari puing-puing bencana. (Gasela Todotepon Moron)
Tag




