Feature

Peluk Berkas Kuliah di Tengah Kepungan Api: Kisah Mahasiswa Penghuni Pasar Segiri Selamatkan Diri dari Api

Mahasiswa selamatkan berkas kuliah saat kebakaran pasar segiri

Rabu, 1 April 2026 20:32

Ibu Aji Rasna menatap bangunan gudangnya yang hangus pasca kebakaran di Pasar Segiri/Foto: (AB)

ARUSBAWAH.CO -  Rabu dini hari (26/3/2026), ketika denyut perdagangan di Pasar Segiri, Samarinda baru saja dimulai, sebuah drama antara hidup dan mati pecah dalam sunyi.

Pukul 03.45 WITA, api yang diduga bermula dari deretan lapak pedagang lain mendadak membubung tinggi.

Diiringi suara ledakan yang membelah kegelapan, si jago merah merambat cepat, menjilat bagian depan sebuah gudang sembako yang sekaligus menjadi tempat bernaung keluarga Ibu Aji Rasna.

Di dalam bangunan yang mulai terkepung hawa panas itu, seorang mahasiswa sedang terlelap di lantai atas, tak menyadari bahwa maut sedang mengetuk pintu depannya.

Ibu Aji Rasna, sang pemilik gudang, saat itu sedang berada jauh di lapak dagangannya di area penjual daging.

Di tengah keriuhan transaksi subuh, ia sama sekali tidak mendengar teriakan peringatan tentang bencana yang sedang merambat menuju arah rumahnya.

"Aku di pasar, jualan di belakang dekat daging. Sudah besar api baru aku tahu. Nggak ada pokoknya nggak ada orang yang teriak. Nggak ada yang enggak ada, pokoknya pas ada mesin kan aku nggak dengar," ungkap Ibu Aji Rasna saat diwawancarai di lokasi, Selasa (1/4/2026).

Pikiran Ibu Aji seketika lumpuh saat menyadari putranya masih berada di dalam.

Di lantai atas yang mulai dimasuki asap, sang putra terbangun bukan karena alarm ponsel, melainkan akibat suara ledakan keras yang bersumber dari lapak-lapak tetangga yang ludes dilalap api tepat di depan tempat tinggalnya.

Satu Dekapan demi Masa Depan

Situasi berubah mencekam ketika sang mahasiswa mendapati pintu keluar utama sulit terbuka.

Di bawah ancaman api kiriman yang mulai menghanguskan bagian depan bangunan, ia harus berjuang sekuat tenaga mendobrak jalan keluar demi sejengkal udara.

"Anakku tidur di atas itu cuma dengar ada ledakan, dia bangun, pintu ini dibuka baru didorong begini, baru bisa keluar," tutur Ibu Aji sambil memperagakan gerakan mendorong pintu yang bagian luarnya tampak menghitam akibat paparan panas.

Dalam detik-detik yang menentukan tersebut, mahasiswa itu melakukan tindakan yang menggetarkan hati.

Tanpa sempat menyambar pakaian, ia hanya meraih dan mendekap erat satu hal: tumpukan berkas kuliahnya.

Baginya, lembaran kertas pendaftaran dan dokumen pendidikan itu adalah harta paling berharga yang tidak boleh hangus.

Ia berlari keluar tanpa sehelai benang pun di tubuhnya, hanya demi memastikan harapan sekolahnya tetap aman di dalam pelukan.

"Anakku itu enggak pakai baju. Berkasnya aja yang diambil, berkas kuliahnya saja baru keluar. Dia fokus mah enggak mau (barang lain). Dia aja loncat keluar baru panggil aku," tambah Ibu Aji dengan suara bergetar menahan haru.

 

Keteguhan di Tengah Puing

Meskipun amukan api menghanguskan bagian depan bangunan kayu miliknya, nasib baik masih menaungi keluarga ini.

Berkat penanganan cepat petugas pemadam yang tiba sekitar 30 menit kemudian, api tidak sampai melumat habis bagian dalam gudang.

Uang modal dagang senilai Rp30 juta yang tersimpan di dalam lemari dan sepeda motor di dalam rumah berhasil diselamatkan dari lahapan api di detik-detik terakhir.

Berdiri di ambang pintu bangunan yang dinding luarnya telah menjadi arang namun bagian dalamnya masih menyisakan tumpukan rak telur yang selamat Ibu Aji menunjukkan keteguhan hati yang luar biasa.

Meski rumah dan gudangnya terdampak, ia menolak untuk terus meratapi nasib.

Ia justru menyoroti rekan sesama pedagang lain yang nasibnya jauh lebih pilu karena lapak usaha mereka rata dengan tanah.

"Aku enggak maksudnya lari ke situ (bantuan), karena ada yang paling parah daripada aku. Toko-toko di ujung sana itu barangnya habis semua. Yang masuk barang sini tempatnya memang semua," tuturnya dengan tulus.

Kini, wajah Pasar Segiri pasca-kebakaran memperlihatkan sisi lain dari sebuah perjuangan.

Meski bangunan toko telah hangus tak tersisa, para pedagang menolak menyerah pada keadaan.

Dengan bermodalkan tenda-tenda darurat seadanya, mereka tetap menggelar dagangan di atas puing-puing bangunan demi menyambung hidup.

"Mereka tetap jualan di tempat yang sama karena mau cari pencaharian makanan. Ya itu sudah begitu, langsung pakai tenda, baru ada juga langganannya cari," tutup Ibu Aji Rasna.

Kisah mahasiswa yang mendekap erat berkas kuliahnya di tengah ledakan dan kepungan api ini kini menjadi simbol bagi warga Pasar Segiri.

Bahwa harta benda mungkin bisa terbakar di luar, namun harapan dan cita-cita yang didekap erat di dada akan tetap utuh untuk membangun kembali kehidupan dari puing-puing bencana. (Gasela Todotepon Moron)

 

Tag

MORE