ARUSBAWAH.CO - Kemarahan Eko Handayani tidak ia luapkan dengan teriakan.
Perupa asal Kalimantan Timur (Kaltim) itu justru memilih marah diatas kanvas, kuas, kardus bekas, cat warna, potongan kayu, dedaunan dan biji kopi untuk bicara tentang banjir Aceh dan Sumatera yang belum juga pulih.
Eko melelang satu karyanya sebagai bentuk protes sekaligus bantuan bagi korban banjir di Aceh dan Sumatera yang sudah berlarut hampir tiga pekan.
Founder Kamar Kreatif itu menyebut, bencana yang menghantam Aceh dan Sumatera bukan hanya sekadar peristiwa alam.
Eko melihat ada keterlambatan negara, bantuan yang tak tertangani rapi, serta keputusan pemerintah yang tidak menetapkan sebagai bencana nasional.
Semua keresahan itu ia tuangkan ke dalam satu lukisan, lalu dilelang dan seluruh hasilnya didonasikan untuk para korban.
“Faktor pendorongnya dari kepedulian saya sebagai manusia dan sebagai seniman melihat kondisi saudara-saudara kita di Aceh yang terdampak begitu mengerikan. Saya ingin mengkritik lewat lukisan karena ketidakpedulian dan keterlambatan pemerintah membantu,” kata Eko saat berbincang dengan pewarta Arusbawah.co, pada Minggu (14/12/2025) malam.
Dilukis Lima Hari di Kedai Kopi, Dibuka dari Rp1 Juta

Lukisan itu dikerjakan Eko selama sekitar lima hari di sebuah kedai kopi bernama Kalijaga, yang berlokasi di Jalan Jakarta, Samarinda.
Karya tersebut dilelang dengan harga pembuka Rp1 juta, sementara penawaran awal dibuka dari Rp200 ribu.
“Seratus persen dana lelang ini tidak saya ambil. Tidak ada sedikit pun. Semua untuk bantuan korban banjir Aceh dan Sumatera,” ujarnya.
Saat ditemui, Eko terlihat tidak melukis diatas kanvas mahal melainkan menggunakan kardus bekas sebagai media utama.
Bagi dia, kardus itu sebagai simbol paling jujur dari situasi lapangan yang terjadi saat ini.
Kata Eko, kardus yang seharusnya menjadi wadah bantuan justru hancur karena bantuan dilempar dari helikopter.
“Kardus itu saya buat hancur karena miris. Bantuan sembako dilempar dari udara, padahal helikopternya bisa mendarat. Akhirnya beras rusak, obat rusak. Mungkin cuma sekitar 60 sampai 67 persen yang masih bisa dipakai, sisanya rusak,” katanya.
Ia mengaku heran melihat cara penyaluran bantuan yang menurutnya tidak sama sekali manusiawi.
“Saya lihat kok sampai segitunya. Kenapa harus dilempar seperti binatang, padahal bisa diturunkan dengan layak,” ucapnya.




