Kardus Hancur, Kayu Hanyut, dan Kopi Gayo
Di atas kardus hancur itu, Eko menempelkan potongan kayu jambu, ranting, daun, dan biji kopi.
Setiap elemen itu punya cerita yang saling terhubung dengan bencana di 3 daerah itu.
Kayu-kayu kering menggambarkan batang besar yang hanyut dari pegunungan dan menghantam rumah warga.
“Itu menceritakan kayu yang larut dari gunung-gunung. Artinya ada kerusakan hutan. Itu sebabnya batang besar bisa turun dan menewaskan banyak orang,” ujarnya.
Biji kopi ditempel menggantikan air.
Aceh, kata Eko, identik dengan kopi Gayo.
Air banjir ia visualkan dalam bentuk biji kopi untuk menegaskan bahwa wilayah aceh yang subur itu kini tenggelam.
“Harusnya lukisan ini pakai air. Tapi saya ganti dengan biji kopi. Unsurnya tetap air, tapi air yang merusak kehidupan kopi itu sendiri,” katanya.
Di sisi kiri lukisan, daun-daun utuh menggambarkan Aceh yang dulu hijau dan subur.
Alam, manusia, dan pertanian berjalan seimbang.
Di sisi kanan, ranting patah dan bekas potongan gergaji menunjukkan kehancuran hutan dan deforestasi.
Kritik Negara dalam Lukisan
Eko secara terbuka memasukkan kritik di dalam lukisan itu terhadap pemerintah.
Ia menyebut keterlambatan penanganan dan keputusan tidak menetapkan bencana nasional sebagai bentuk ketidakbecusan pemerintah.
“Ada tulisan bantuan pemerintah di batang kayu. Kita tahu sendiri pemainnya siapa. Kenapa bencana ini tidak jadi bencana nasional. Ternyata ada permainan dengan oligarki, penebangan hutan, sawit. Itu saya simbolkan dengan ranting terpotong mesin chainsaw,” katanya.
Politik, bagi Eko, tidak bisa dipisahkan dari bencana.
Bahkan hujan pun ia ganti menjadi elemen hujan ranting, bukan hujan air.




