Kawasan ini bahkan menjadi rujukan banyak daerah lain—mulai dari Jambi hingga Kalimantan Tengah—untuk mempelajari bagaimana masyarakat adat dapat menjaga bentang alam secara mandiri.
Meski demikian, ancaman tetap ada. Setiap kawasan hutan menghadapi risiko degradasi jika pengawasan melemah.
Karena itu, keberlanjutan pengelolaan adat menjadi kunci agar Wehea tetap utuh dan Lutung Kutai memiliki habitat yang aman dalam jangka panjang.
Simbol Kearifan Lokal untuk Masa Depan Keanekaragaman Hayati

Penemuan kembali Lutung Kutai bukan sekadar kabar baik bagi dunia primata. Ia menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal dapat menjadi benteng terakhir ketika pendekatan formal belum mampu memberikan perlindungan memadai.
Wehea menunjukkan bahwa masyarakat adat bukan hanya penjaga hutan, tetapi juga penjaga masa depan spesies yang bahkan belum sepenuhnya kita pahami.
Lutung Kutai yang dulu dianggap hilang kini menjadi pengingat bahwa banyak kekayaan hayati Indonesia masih tersembunyi, rapuh, dan bergantung pada kepedulian kita semua.
Konten diproduksi oleh Jurnalis Peduli Satwa di Kalimantan Timur. Berkolaborasi dengan Arusbawah.co
(pra)
Tag




