ARUSBAWAH.CO - Lutung Kutai (Presbytis canicrus) adalah salah satu primata paling misterius yang dimiliki Kalimantan.
Selama bertahun-tahun, hewan ini nyaris dinyatakan punah karena tidak pernah terlihat lagi di alam.
Namun penemuan kembali di Hutan Lindung Wehea, Kutai Timur, mengubah segalanya dan menjadikannya simbol keberhasilan konservasi berbasis adat di Indonesia.
Julukan “Lutung Drakula” muncul dari jurnalis Kalimantan Timur, Awaluddin Jalil.
Ia menggambarkan warna putih keabu-abuan pada leher hingga dada primata ini seperti jubah yang dikenakan makhluk dalam legenda.
Julukan itu melekat sejak ia ikut survei satwa menggunakan kamera jebak di Wehea, tempat lutung ini kembali terekam setelah lama menghilang.
Dalam catatan ilmiah, sebaran Lutung Kutai sangat sempit.
Hingga kini, keberadaannya hanya dilaporkan di dua lokasi: Hutan Lindung Wehea dan Taman Nasional Kutai.
Masa lalu yang penuh kebakaran hutan diduga menjadi penyebab utama merosotnya populasinya.
Secara global, Presbytis canicrus masuk kategori Endangered, namun ironisnya belum tercantum sebagai satwa dilindungi secara hukum di Indonesia.
Kesaksian Lapangan: “Satwa yang Jarang Terlihat Manusia”
Arif Rifqi, Spesialis Spesies Terancam Punah dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), menjelaskan bahwa sejauh ini pengetahuan ilmiah tentang lutung ini masih minim.
Di sebuah sepan—lokasi sumber mineral bagi satwa liar—kamera trap mendeteksi keberadaan mereka cukup sering, tetapi perjumpaan langsung hampir tidak pernah terjadi.
Ia menyebut bahwa penemuan kembali spesies ini sebenarnya berawal dari 2012.
Data awal bahkan berasal dari para ranger Wehea, sebelum dipublikasikan peneliti seperti Sten Lotang.
Klasifikasi Lutung Kutai baru dipisahkan dari Presbytis hosei pada 2014 melalui konferensi primata, menandai statusnya sebagai spesies unik dengan ciri dan sebaran yang berbeda.
Arif mengungkapkan bahwa lutung ini sangat sulit diteliti karena sifatnya yang sensitif.
Metode penghitungan populasi tidak selalu tersedia, sementara mengikuti kelompok lutung di alam hampir mustahil dilakukan. Struktur sosialnya pun unik: kelompok dominan biasanya berisi banyak betina, sedangkan kelompok berisi banyak jantan disebut oportunis dan dapat mengambil alih kelompok lain.
Beberapa lokasi lain juga diketahui memiliki populasi kecil lutung ini—seperti kawasan konsesi Karya Lestari dan Gunung Gajah—namun tetap dalam cakupan ekosistem Wehea–Kelay.

Dalam penilaian konservasi, ia masuk kategori HCV 1.3 karena berstatus terancam, tetapi ketiadaan perlindungan hukum membuat posisinya tetap rapuh.
Arif menduga, Lutung Kutai tidak masuk daftar satwa dilindungi dalam PermenLHK P.20/2018 karena kurangnya data ilmiah saat aturan tersebut disusun.
Akibatnya, rekomendasi terbaru dari komunitas primata internasional belum tercermin dalam regulasi nasional.
Hutan Adat Wehea: Benteng Terakhir yang Menjaga Lutung Kutai
Konservasi Lutung Kutai tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Suku Dayak Wehea, penjaga utama hutan seluas lebih dari 38 ribu hektare tersebut.
Edy Sudiono, Manajer Kemitraan Program Terestrial YKAN, menjelaskan bahwa sejak awal 2000-an, masyarakat Wehea membangun sistem perlindungan berbasis adat untuk mengakhiri konflik lahan, klaim tumpang tindih, hingga illegal logging yang dulu merajalela.
Model pengelolaan ini terbukti berhasil. Hutan yang sebelumnya pernah menjadi area pembalakan kini kembali rapat, lembab, dan sejuk; sungai-sungainya jernih, dan tutupan tajuknya menyatu.
Kawasan ini bahkan menjadi rujukan banyak daerah lain—mulai dari Jambi hingga Kalimantan Tengah—untuk mempelajari bagaimana masyarakat adat dapat menjaga bentang alam secara mandiri.
Meski demikian, ancaman tetap ada. Setiap kawasan hutan menghadapi risiko degradasi jika pengawasan melemah.
Karena itu, keberlanjutan pengelolaan adat menjadi kunci agar Wehea tetap utuh dan Lutung Kutai memiliki habitat yang aman dalam jangka panjang.
Simbol Kearifan Lokal untuk Masa Depan Keanekaragaman Hayati

Penemuan kembali Lutung Kutai bukan sekadar kabar baik bagi dunia primata. Ia menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal dapat menjadi benteng terakhir ketika pendekatan formal belum mampu memberikan perlindungan memadai.
Wehea menunjukkan bahwa masyarakat adat bukan hanya penjaga hutan, tetapi juga penjaga masa depan spesies yang bahkan belum sepenuhnya kita pahami.
Lutung Kutai yang dulu dianggap hilang kini menjadi pengingat bahwa banyak kekayaan hayati Indonesia masih tersembunyi, rapuh, dan bergantung pada kepedulian kita semua.
Konten diproduksi oleh Jurnalis Peduli Satwa di Kalimantan Timur. Berkolaborasi dengan Arusbawah.co
(pra)




