ARUSBAWAH.CO - Hampir tiga dekade terakhir, satu nama tak bisa dilepaskan dari upaya penyelamatan pesut Mahakam yang kian terancam punah.
Ia adalah Danielle Kreb, perempuan asal Belanda yang sejak 1997 menetap di Kalimantan Timur dan dikenal luas dengan sebutan ibu pesut Mahakam.
Kini, Danielle menjabat sebagai pimpinan program ilmiah di Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI).
Bersama sang suami, Budiono yang juga Direktur RASI, ia telah menghabiskan hidupnya untuk penelitian, edukasi, hingga aksi nyata demi menjaga populasi pesut yang tersisa di Sungai Mahakam.
“Pertama kali saya lihat pesut di Muara Kaman tahun 1997. Rasanya kagum sekali, karena biasanya lumba-lumba hanya hidup di laut, tapi ternyata bisa juga hidup di sungai. Dari situ saya merasa harus meneliti lebih dalam,” ujar Danielle, pada Sabtu (4/10/2025) di kediamanya.
Awal Perjalanan dari Belanda ke Mahakam
Perjalanan panjang Danielle Kreb berawal dari studinya di Universitas Amsterdam, Belanda.
Semula, ia berniat meneliti lumba-lumba sungai di Cina, namun rencana itu gagal karena populasi di sana sudah nyaris punah.
Ia kemudian menekuni penelitian kucing hutan di Skotlandia.
Tak disangka, kabar dari seorang teman membawanya ke Indonesia.
“Saya dikasih tahu ada lumba-lumba sungai juga di Mahakam. Saat itu informasinya sangat sedikit. Saya lalu bergabung dengan survei BKSDA, bikin proposal singkat, akhirnya diizinkan berangkat ke Kalimantan,” kenangnya.
Tahun 1997 ia menjejakkan kaki pertama kali di Bumi Etam.
Sejak itu, Sungai Mahakam menjadi bagian dalam hidupnya.

Ancaman Rengge dan Kematian Pesut
Seiring riset berjalan, Danielle Kreb menemukan fakta bahwa banyak pesut mati terperangkap jaring insang atau rengge.
“Bukan sengaja ditangkap, tapi mereka terjerat lalu tenggelam. Itu penyebab terbesar kematian pesut,” jelasnya.
Data Yayasan RASI menunjukkan, rata-rata kematian pesut Mahakam sepanjang 1995–2022 mencapai 2-4 ekor per tahun.
Sebanyak 70 persen kematian disebabkan rengge, 9 persen tertabrak kapal, dan 7 persen karena racun atau limbah.
Melihat kondisi itu, Danielle sadar riset saja tidak cukup. Ia harus melibatkan masyarakat.





