"Kalau yang tadinya penerimaan hanya dari pembayaran tanggal 1 sampai 20, kami harapkan yang tanggal 21 sampai 31 juga bisa menyumbang. Karena mereka bayar air sekaligus dendanya, otomatis penerimaan ikut naik," ujarnya.
Menurut Risdianto, nilai piutang pelanggan yang semula mencapai sekitar Rp224 miliar kini telah turun menjadi sekitar Rp109 miliar.
Penurunan itu, kata dia, merupakan hasil pembenahan sistem administrasi, penertiban tunggakan, dan evaluasi rutin yang dilakukan selama setahun terakhir.
Meski demikian, pihaknya masih melakukan verifikasi terhadap sejumlah data lama yang dinilai sudah tidak relevan, seperti pelanggan di kawasan yang bangunannya telah hilang atau sambungan yang sudah tidak lagi aktif.
Ia optimistis nilai piutang masih dapat terus ditekan apabila seluruh tahapan penagihan berjalan sesuai SOP dan didukung seluruh unsur yang terlibat, mulai dari petugas kepatuhan, pembaca meter, hingga rekanan.
"Kami berusaha membenahi ini pelan-pelan. Yang kami kejar bukan hanya pendapatan, tapi supaya piutang tertib sesuai aturan. Mudah-mudahan dengan pola ini hasilnya juga semakin baik ke depannya," pungkas Risdianto. (sobizz/raf)
- Pengurasan Bak Sedimentasi IPA Bendang 1 Ditunda, Sejumlah Wilayah di Samarinda Tetap Terlayani Air Bersih
- Laba Tiga BUMD Samarinda 2025 di Angka Rp66 Miliar, Yang Mana Terbesar?
- Nunggak Tiga Bulan, Pelanggan Perumdam Tirta Kencana Terancam Disegel dan Diputus
- Daerah Terdampak Mati Air Samarinda 20 Mei 2026: Jalan Kapten Soejono hingga Sambutan Asri
Tag




