ARUSBAWAH.CO - Perumdam Tirta Kencana Samarinda mulai mengubah strategi penagihan tunggakan pelanggan sebagai upaya meningkatkan pendapatan perusahaan sekaligus menekan nilai piutang yang masih cukup besar.
Selain memperketat penerapan standar operasional prosedur (SOP), perusahaan kini menggandeng petugas pembaca meter dan rekanan pihak ketiga untuk mempercepat proses penagihan di lapangan.
Manajer Kepatuhan Pelanggan Perumdam Tirta Kencana Samarinda, Risdianto, mengatakan perubahan pola kerja tersebut dilakukan setelah pihaknya mengevaluasi berbagai kendala yang selama ini membuat penanganan tunggakan tidak berjalan optimal.
Menurut dia, keterbatasan petugas membuat proses penagihan sering terhambat, terutama ketika menghadapi meteran yang dicor, pagar rumah yang terkunci, hingga keberadaan hewan peliharaan yang menyulitkan akses ke lokasi pelanggan.
"Kami bertugas sering terkendala. Contohnya meteran dicor. Kalau kami tangani sendiri waktunya lama. Memo yang kami bawa rata-rata 30 sampai 40, tapi bisa habis satu hari hanya mengerjakan satu kasus seperti itu. Makanya kami serahkan ke rekanan," kata Risdianto kepada Arusbawah.co, Jumat (26/6/2026).
Ia menjelaskan, saat ini Perumdam telah menempatkan rekanan di masing-masing dari empat wilayah pelayanan.
Kehadiran pihak ketiga itu difokuskan untuk membantu pekerjaan teknis sehingga petugas kepatuhan dapat lebih fokus menjalankan penyegelan terhadap pelanggan yang menunggak.
"Sekarang sudah dibantu rekanan. Masing-masing wilayah ada satu pendampingan. Begitu dia bongkar hari ini, besok kami masuk lagi karena memang penyegelan tetap di tangan kami," ujarnya.
Selain menggandeng rekanan, Perumdam juga mulai menyusun mekanisme baru dalam penyampaian surat pemberitahuan tunggakan.
Jika sebelumnya seluruh proses dilakukan petugas kepatuhan, ke depan surat pemberitahuan akan ikut dibawa oleh petugas pembaca meter.
Menurut Risdianto, langkah tersebut dipilih karena pembaca meter merupakan petugas yang rutin mendatangi rumah pelanggan setiap bulan sehingga peluang surat sampai kepada pelanggan jauh lebih besar.
"Kami rencana bekerja sama dengan pihak koperasi. Memo pemberitahuan itu kami minta dibantukan ke pencatat meter untuk menyampaikan karena mereka yang tiap bulan datang ke pelanggan," katanya.
Tak hanya menyampaikan surat, setiap pemberitahuan juga akan didokumentasikan melalui foto sebagai bukti bahwa pelanggan telah menerima informasi mengenai tunggakan maupun sanksi yang akan dikenakan apabila tidak segera melakukan pembayaran.
Langkah tersebut diharapkan mengurangi komplain pelanggan yang selama ini mengaku tidak pernah menerima pemberitahuan sebelum dilakukan penyegelan.
"Jadi waktu pencatat meter menyampaikan memo itu, mereka foto yang menerima. Kalau nanti ada pelanggan datang bilang tidak pernah dikasih tahu, kami sudah punya buktinya," tutur Risdianto.
Ia mengatakan pembenahan sistem penagihan dilakukan bukan semata-mata untuk meningkatkan kepatuhan pelanggan, tetapi juga menjaga penerimaan perusahaan di tengah meningkatnya biaya operasional.
Saat ini, kata dia, hasil penagihan tunggakan mampu menyumbang pendapatan sekitar Rp3 miliar hingga Rp4 miliar setiap bulan.
Nilai tersebut diharapkan terus meningkat seiring semakin tertibnya sistem penagihan yang diterapkan.
"Kalau yang tadinya penerimaan hanya dari pembayaran tanggal 1 sampai 20, kami harapkan yang tanggal 21 sampai 31 juga bisa menyumbang. Karena mereka bayar air sekaligus dendanya, otomatis penerimaan ikut naik," ujarnya.
Menurut Risdianto, nilai piutang pelanggan yang semula mencapai sekitar Rp224 miliar kini telah turun menjadi sekitar Rp109 miliar.
Penurunan itu, kata dia, merupakan hasil pembenahan sistem administrasi, penertiban tunggakan, dan evaluasi rutin yang dilakukan selama setahun terakhir.
Meski demikian, pihaknya masih melakukan verifikasi terhadap sejumlah data lama yang dinilai sudah tidak relevan, seperti pelanggan di kawasan yang bangunannya telah hilang atau sambungan yang sudah tidak lagi aktif.
Ia optimistis nilai piutang masih dapat terus ditekan apabila seluruh tahapan penagihan berjalan sesuai SOP dan didukung seluruh unsur yang terlibat, mulai dari petugas kepatuhan, pembaca meter, hingga rekanan.
"Kami berusaha membenahi ini pelan-pelan. Yang kami kejar bukan hanya pendapatan, tapi supaya piutang tertib sesuai aturan. Mudah-mudahan dengan pola ini hasilnya juga semakin baik ke depannya," pungkas Risdianto. (sobizz/raf)
- Pengurasan Bak Sedimentasi IPA Bendang 1 Ditunda, Sejumlah Wilayah di Samarinda Tetap Terlayani Air Bersih
- Laba Tiga BUMD Samarinda 2025 di Angka Rp66 Miliar, Yang Mana Terbesar?
- Nunggak Tiga Bulan, Pelanggan Perumdam Tirta Kencana Terancam Disegel dan Diputus
- Daerah Terdampak Mati Air Samarinda 20 Mei 2026: Jalan Kapten Soejono hingga Sambutan Asri




