Setelah proses penyelamatan selesai, tim langsung melakukan pemeriksaan kesehatan.
Hasilnya, induk orangutan masih dalam kondisi fisik yang cukup baik.
Ketiganya kemudian dilepasliarkan kembali pada hari yang sama ke kawasan hutan yang masih terjaga.
Lokasi pelepasliaran berada di area High Conservation Value (HCV) milik perusahaan yang masih berada dalam satu lanskap dengan lokasi penemuan, yakni di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur.
Dipindahkan Demi Keselamatan Induk dan Bayinya
Menurut Ari, pemindahan tidak dilakukan terlalu jauh demi menjaga keselamatan satwa, terutama bayi yang masih sangat kecil.
“Anaknya masih sekitar satu tahun. Kami tidak bisa memindahkan terlalu jauh karena berisiko bagi keselamatan mereka,” katanya.
Lokasi HCV yang dipilih telah melalui kajian dari sisi ekologi, ketersediaan pakan, hingga keamanan kawasan.
Selain itu, lokasi tersebut juga memungkinkan tim melakukan pemantauan lanjutan terhadap induk dan kedua bayinya.
Kisah Haru di Balik Bayi Orangutan Kembar
Kasus ini menjadi pengingat bahwa populasi orangutan kini semakin tertekan akibat kerusakan habitat.
Menurut Paulinus, keberadaan induk dengan bayi kembar di kawasan hutan yang terfragmentasi menunjukkan bagaimana satwa liar masih berusaha bertahan di tengah perubahan lanskap.
“Bayangkan seorang ibu punya anak kembar tapi tidak punya rumah dan makanan yang cukup. Itu kira-kira gambaran kondisi orangutan ini,” ujarnya.
Karena itu, upaya perlindungan habitat dinilai menjadi hal yang sangat penting agar kejadian serupa tidak terus berulang di masa depan. (pra)
Konten diproduksi oleh Jurnalis Peduli Satwa di Kalimantan Timur. Berkolaborasi dengan Arusbawah.co
- Langka! Orca Terekam di Maratua, Tantangan Baru Penelitian Laut Kaltim
- Mahakam Bukan Hanya Jalur Batu Bara, 66 Pesut Butuh Diselamatkan
- Cerita di Balik Peristiwa Orang Utan Mengais Sampah di Tepi Jalur Perdau Bengalon (Part 2)
- Cerita di Balik Peristiwa Orang Utan Mengais Sampah di Tepi Jalur Perdau Bengalon (Part 1)
Tag




