Arus Publik

Konten Peduli Satwa

Kejadian Langka: Orang Utan Betina Punya Bayi Kembar di Tengah Habitat yang Rusak

Kamis, 5 Maret 2026 21:7

BAYI ORANGUTAN - Sebuah peristiwa langka sekaligus mengharukan terjadi di Kalimantan Timur. Seekor induk Orangutan Borneo ditemukan sedang merawat dua bayi kembar di kawasan hutan yang sudah terfragmentasi dan rusak/ HO to Arusbawah.co

ARUSBAWAH.CO - Sebuah peristiwa langka sekaligus mengharukan terjadi di Kalimantan Timur.

Seekor induk Orangutan Borneo ditemukan sedang merawat dua bayi kembar di kawasan hutan yang sudah terfragmentasi dan rusak.

Kasus ini terungkap setelah video induk orangutan bersama dua bayinya viral di media sosial.

Kejadian tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur bersama Conservation Action Network dan sejumlah pihak terkait.

Peristiwa ini menjadi kabar baik sekaligus kabar buruk.

Baiknya, kelahiran bayi orangutan kembar merupakan kejadian yang sangat langka.

Namun buruknya, sang induk harus membesarkan kedua anaknya di habitat yang sudah tidak lagi ideal untuk bertahan hidup.

Penemuan Berawal dari Video Viral

Direktur sekaligus Founder Conservation Action Network (CAN), Paulinus Kristanto, menjelaskan bahwa tim mereka awalnya menerima laporan masyarakat tentang video viral yang memperlihatkan induk orangutan dengan bayinya di area terbuka.

“Biasanya banyak laporan orang utan, tapi saat dicek kadang tidak ditemukan. Namun kali ini setelah dipantau dua hari, benar ada induk orang utan dengan bayinya,” ujarnya.

Saat tim monitoring berhasil menemukan satwa tersebut, mereka sempat kebingungan karena terlihat ada dua bayi orangutan.

Setelah dilakukan pengamatan lebih lanjut, ukuran kedua bayi ternyata sama. Dari situ disimpulkan bahwa keduanya adalah bayi kembar.

“Ini sangat jarang terjadi. Bisa dibilang satu dari ratusan kasus,” kata Paulinus.

Habitat Terfragmentasi, Induk Harus Bekerja Dua Kali Lebih Keras

Tim konservasi kemudian melakukan analisis menggunakan drone dan citra satelit.

Hasilnya menunjukkan bahwa lokasi penemuan orangutan tersebut tidak lagi memiliki daya dukung habitat yang memadai.

Kawasan itu berada di area konsesi yang berbatasan dengan perkebunan sawit dan pertambangan batu bara.

Dalam kondisi normal, seekor induk orangutan membutuhkan sekitar satu kilogram makanan per hari.

Namun dengan dua bayi yang harus disusui, kebutuhan tersebut bisa meningkat dua kali lipat.

“Kalau biasanya makan satu kilo sehari, sekarang bisa dua kilo untuk memenuhi kebutuhan susu anaknya,” jelas Paulinus.

Situasi inilah yang akhirnya membuat tim memutuskan bahwa induk dan kedua bayinya harus segera diselamatkan melalui proses translokasi.

ORANGUTAN BORNEO - Induk orangutan bersama dua bayinya/ HO to Arusbawah.co

 

Proses Penyelamatan yang Dianggap “Keajaiban”

Proses evakuasi satwa liar biasanya tidak mudah. Apalagi jika melibatkan induk dan bayi orangutan, terlebih lagi bayi kembar.

Namun dalam kasus ini, tim konservasi justru mengalami hal yang tak biasa.

Biasanya orangutan enggan turun dari pohon yang tinggi.

Tetapi kali ini, induk tersebut justru turun hingga ke tanah bersama kedua anaknya.

“Seperti menyerahkan diri. Sampai ke tanah. Itu jarang sekali terjadi,” kata Paulinus.

Proses pembiusan dan evakuasi pun berlangsung cepat. Kedua bayi tetap menempel pada tubuh induknya tanpa menunjukkan kepanikan.

“Biasanya bayi orang utan akan menangis atau mencoba lepas. Tapi ini tidak. Semua berjalan sangat tenang,” ujarnya.

BKSDA Kaltim Lakukan Rescue dan Translokasi

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur, M Ari Wibawanto, mengatakan keputusan penyelamatan diambil karena kondisi habitat sangat berisiko bagi induk dan kedua anaknya.

“Lokasi tersebut terfragmentasi, artinya hutan yang tersisa sangat kecil dan tidak tersambung dengan kawasan hutan lain,” jelasnya.

Setelah proses penyelamatan selesai, tim langsung melakukan pemeriksaan kesehatan.

Hasilnya, induk orangutan masih dalam kondisi fisik yang cukup baik.

Ketiganya kemudian dilepasliarkan kembali pada hari yang sama ke kawasan hutan yang masih terjaga.

Lokasi pelepasliaran berada di area High Conservation Value (HCV) milik perusahaan yang masih berada dalam satu lanskap dengan lokasi penemuan, yakni di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur.

Dipindahkan Demi Keselamatan Induk dan Bayinya

Menurut Ari, pemindahan tidak dilakukan terlalu jauh demi menjaga keselamatan satwa, terutama bayi yang masih sangat kecil.

“Anaknya masih sekitar satu tahun. Kami tidak bisa memindahkan terlalu jauh karena berisiko bagi keselamatan mereka,” katanya.

Lokasi HCV yang dipilih telah melalui kajian dari sisi ekologi, ketersediaan pakan, hingga keamanan kawasan.

Selain itu, lokasi tersebut juga memungkinkan tim melakukan pemantauan lanjutan terhadap induk dan kedua bayinya.

Kisah Haru di Balik Bayi Orangutan Kembar

Kasus ini menjadi pengingat bahwa populasi orangutan kini semakin tertekan akibat kerusakan habitat.

Menurut Paulinus, keberadaan induk dengan bayi kembar di kawasan hutan yang terfragmentasi menunjukkan bagaimana satwa liar masih berusaha bertahan di tengah perubahan lanskap.

“Bayangkan seorang ibu punya anak kembar tapi tidak punya rumah dan makanan yang cukup. Itu kira-kira gambaran kondisi orangutan ini,” ujarnya.

Karena itu, upaya perlindungan habitat dinilai menjadi hal yang sangat penting agar kejadian serupa tidak terus berulang di masa depan. (pra)

Konten diproduksi oleh Jurnalis Peduli Satwa di Kalimantan Timur. Berkolaborasi dengan Arusbawah.co 

 

Tag

MORE