ARUSBAWAH.CO - Nasib pilu menimpa Muhammad Nazmin, seorang mahasiswa perantau di Samarinda yang harus kehilangan sepeda motornya sejak lima bulan lalu.
Di tengah ketidakpastian hukum yang dihadapinya, Nazmin kini harus menanggung beban hidup demi bisa bertahan kuliah di perantauan.
Dalam keterangannya pada Sabtu (23/5), Nazmin mengungkapkan bahwa motor yang hilang sejak akhir tahun lalu tersebut dibeli secara kredit dengan penuh perjuangan, yang kini justru menyisakan beban cicilan bagi keluarganya.
Hasil Kerja Sebelum Kuliah dan Ironi Sisa Cicilan Kredit
Motor tersebut dibeli secara kredit di salah satu dealer di Kota Sangatta pada tahun 2024 lalu.
Nazmin menceritakan bahwa kendaraan tersebut bukan barang mewah pemberian orang tua, melainkan hasil keringatnya sendiri.
Sebelum masuk kuliah, Nazmin memilih untuk bekerja terlebih dahulu agar bisa membeli motor untuk transportasi harian.
“Itu motor pas sebelum saya kuliah, saya kerja dulu buat beli itu motor,” kata Nazmin.
Seluruh uang cicilan pada tahun pertama dibayar sendiri oleh Nazmin dari hasil kerjanya.
Setelah memasuki tahun kedua dan dirinya mulai fokus kuliah, barulah pembayaran bulanan dibantu oleh orang tuanya.
Ironisnya, di saat motor itu sudah mau lunas, motornya malah dicuri maling.
Nazmin menyebutkan, hingga hari ini saat motornya belum tahu ada di mana, cicilan motor itu ternyata belum lunas dan masih harus terus dibayar oleh orang tuanya di kampung.
“Kayanya tinggal tujuh bulan kayaknya lagi,” tambah Nazmin.
Melihat kondisi motor yang hilang dan belum ada kejelasan, orang tua Nazmin bahkan sempat berniat mengklaim asuransi ke pihak dealer karena takut sepeda motor tersebut tidak akan pernah kembali lagi.
Dampak Finansial dan Akademik di Perantauan
Kehilangan motor sebagai alat transportasi utama membuat kehidupan sehari-hari Nazmin di Samarinda menjadi terganggu.
Dampak paling nyata yang dirasakannya adalah pembengkakan biaya hidup yang luar biasa karena harus naik ojek online setiap hari untuk pergi dan pulang dari tempat tinggalnya ke kampus UINSI Samarinda.
“Kalau mau dibilang sangat ganggu, ya sangat sangat sangat ganggu sih. Soalnya tempat saya juga kan jauh dari kampus. Baru kalau misal ini pesan Maxim biasa, pulang pergi itu habis Rp80.000,” jelas Nazmin.
Gara-gara ongkos ojek yang tembus Rp80.000 per hari, aktivitas kuliah Nazmin menjadi terganggu.
Kendala biaya transportasi harian ini membuat Nazmin beberapa kali terpaksa melewatkan jadwal perkuliahan karena keterbatasan ongkos operasional ke kampus.
“Aktivitas kuliah terganggu. Kadang-kadang ini mata kuliah ini ada yang tidak masuk, jadi kayak gitulah,” ungkap mahasiswa semester 2 tersebut.
Karena tidak sanggup terus-menerus membayar biaya ojek online yang mahal, Nazmin akhirnya mengambil keputusan untuk pindah dari tempat tinggal lamanya di kawasan Jalan Bung Tomo.
Sekarang, ia menyewa kamar kos yang lebih dekat dengan kampus UINSI dengan harga Rp700.000 per bulan demi menghemat uang transportasi harian.
“Hanya keinginan (pindah). Sekalian ini juga, kalau misal biaya tarif Maxim itu kan Rp80.000 per hari kan mending ngekos dekat kampus aja,” tuturnya.
Kontras Latar Belakang Keluarga dan Beban Orang Tua
Beban yang dipikul Nazmin di tanah perantauan terasa semakin berat jika melihat kondisi ekonomi keluarganya.
Mahasiswa ini merupakan anak kedua dari enam bersaudara yang merantau dari Kecamatan Sandaran, Kabupaten Kutai Timur, wilayah yang terletak cukup jauh dari Kota Samarinda.
Di kampung halaman, orang tua Nazmin hanya bekerja sebagai buruh tani.
Dengan tanggungan enam orang anak dan penghasilan buruh tani yang pas-pasan, kehilangan motor ini menjadi pukulan telak yang menambah beban keluarga mereka.
Situasi tersebut nyatanya memicu keluhan dari orang tuanya di kampung halaman.
Sebab, sejak motor harian itu hilang, Nazmin terpaksa sering meminta kiriman uang tambahan di luar biaya hidup bulanan biasa, khusus untuk menutupi ongkos ojek ke kampus.
“Kalau pas dulu kayak apa ya, selalu mengeluh gitu karena minta terus kan uang ke dia buat ini (ongkos),” tutur Nazmin terbuka mengenai kondisi orang tuanya.
Suara Hati Korban: Penanganan Lambat dan Harapan Izin Pinjam Pakai
Nazmin juga mengungkapkan alasan utama mengapa ia memutuskan untuk membuat video curhat hingga akhirnya viral di media sosial.
Ia merasa penanganan dari pihak Polresta Samarinda berjalan sangat lambat dan berbelit-belit.
Padahal menurut informasi yang diterimanya, posisi motor dan pihak-pihak yang membawa motor tersebut sebenarnya sudah diketahui di lapangan, namun belum ada tindakan nyata untuk mengamankan barang bukti.
“Mungkin karena ini aja sih penanganannya lambat betul, terlalu ini, terlalu berbelit-belit. Padahal kan itu motor sudah ada, tinggal diamankan kan. Sama yang megang motor juga sudah tau siapa aja,” tegas Nazmin.
Kini, Nazmin sangat berharap pelaku bisa segera diamankan dan motornya dikembalikan.
Namun, ia juga memikirkan nasib perkuliahannya jika motor tersebut nantinya ditahan terlalu lama sebagai barang bukti.
Ia berharap pihak berwenang bisa memberikan kebijakan agar dirinya boleh meminjam dan memakai motor itu untuk kuliah selama proses hukum berjalan.
“Harapan saya kan semoga itu motor itu kembali, terus pelakunya cepat ditangkapkah. Baru kan kalau misal jalur hukum juga itu motor enggak bisa dipakai. Harapanku kan buat bisalah dipinjam pakai buat dipakai aktivitas kuliah,” harapnya.
Kini, di tengah segala keterbatasan biaya ojek dan utang cicilan yang belum lunas, mahasiswa semester 2 ini hanya bisa terus bertahan menjalani perkuliahannya sambil menunggu motornya kembali. (son)
- RSUD Aws Beberkan Audit Kasus Bayi Syahdu dalam Pertemuan Tertutup dengan Kuasa Hukum, Apa Hasilnya?
- Hasil Audit Dugaan Kelalaian Medis Sudah Keluar, Ibu Korban: Anak Saya yang Cacat, Kenapa Dewan yang Didahulukan?'
- Hasil Audit Dugaan Kelalaian Medis di RS Pemerintah Sudah Keluar, Pihak Rumah Sakit Akan Surati Dewan




