ARUSBAWAH.CO - Alur Sungai Mahakam bukan sekadar jalur air.
Ia adalah mesin uang yang setiap hari bekerja tanpa henti.
Ribuan kapal tongkang batu bara melintas di bawah Jembatan Mahakam, Mahulu dan Mahkota dengan membayar jasa pandu agar bisa lewat dengan aman tanpa menabrak.
Namun dari hitungan kasar pendapatan yang dihimpun redaksi Arusbawah.co, terlihat uang besar berputar, tapi pendapatan ke kas daerah nyaris tak tersentuh.
Bisnis Jasa Kapal Pandu Pelindo di Sungai Mahakam
PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV Samarinda selama ini menjadi badan usaha kapal pandu sungai Mahakam.
Data dari pemberitaan Kaltimkece.id, untuk setiap paket jasa pandu dan tunda kapal tongkang, tarif yang dipatok berkisar Rp2 juta.
Jika ditarik ke data lalu lintas kapal, angkanya besar.
Disebut dalam setahun, volume transaksi jasa pandu Pelindo mencapai sekitar Rp47 miliar.
Itu belum termasuk jasa tambat dan labuh kapal.
Hitung-hitungan Pendapatan Kapal Pandu Per Hari, Bulan, dan Tahun
Khusus kapal tongkang batu bara, biaya pemanduan untuk melewati kolong Jembatan Mahakam berada di kisaran Rp1,8 hingga Rp2 juta setiap satu kali lintasan.
Uang itu dibayarkan langsung kepada pemandu kapal Pelindo.
Dengan lalu lintas rata-rata 20 hingga 25 ribu kapal tongkang per tahun, maka perputaran uang dari satu titik sungai saja bisa dihitung kasar.
Jika diambil angka estimasi 21 ribu kapal tongkang per tahun, dikalikan Rp1,8 juta, maka potensi pendapatan kotor dari pemanduan kolong jembatan mencapai sekitar Rp37,8 miliar per tahun.
Artinya, per bulan sekitar Rp3,1 miliar, atau lebih dari Rp100 juta per hari.
Semua itu mengalir sebagai pendapatan Pelindo, lalu disetorkan ke negara dalam bentuk dividen, bukan masuk kas daerah Kalimantan Timur.




