Kata Seno, rendahnya SiLPA bukan karena anggaran dipangkas, melainkan karena belanja lebih presisi.
Program yang direncanakan benar-benar dieksekusi, bukan sekadar dicatat di atas kertas.
Faktor Teknis Tetap Menyumbang SiLPA
Meski begitu, Seno menegaskan SILPA tidak mungkin nol.
Ada faktor teknis yang tidak bisa dihindari, terutama dari proses pengadaan barang dan jasa.
Selisih antara pagu anggaran dan hasil lelang menjadi penyumbang utama sisa dana.
“Contohnya, kita anggarkan Rp 2 miliar, tapi lelangnya selesai di Rp 1,9 miliar. Selisih Rp 100 juta itu otomatis masuk SILPA. Itu hal normal,” jelasnya.
- PLTA Mentarang Induk Ancam Jantung Kalimantan: Sungai Tubu hingga TN Kayan Mentarang Terancam Tenggelam
- Tak Cairkan Gratispol demi Hindari Temuan BPK, Ini Penjelasan Pemprov Kaltim soal Viral Unggahan Pembatalan Beasiswa
- Sosok Wanita Mengaku Mantan Istri Dirut Perusda Kaltim Kirim Surat ke Gubernur, Kuasa Hukum Menyayangkan
Skala SiLPA Kini Lebih Terkendali
Namun yang membedakan 2025 dengan tahun-tahun sebelumnya adalah skalanya.
Kata dia, Jika dulu selisih kecil itu terakumulasi menjadi triliunan rupiah, kini jumlahnya jauh lebih terkendali.
Artinya, kebocoran waktu dan keterlambatan eksekusi mulai dipersempit.
Pemprov Kaltim Percepat Lelang untuk Tekan SiLPA 2026
Untuk mencegah SILPA kembali membengkak pada 2026, Pemprov Kaltim mengambil langkah yang cukup berani yakni mempercepat proses lelang sejak awal tahun.
Tag



