Arus Publik

PLTA Mentarang Induk Ancam Jantung Kalimantan: Sungai Tubu hingga TN Kayan Mentarang Terancam Tenggelam

PLTA Mentarang Induk dan Ambisi Energi Industri

Selasa, 20 Januari 2026 19:24

KOLASE - Persimpangan Sungai Mentarang dan Sungai Tubu dan Lai Icu tetua Suku Punan dari Sungai Tubu/Sumber: Penelitian Nugal Institute for Social Ecological Studies dan LP3M

ARUSBAWAH.CO -  Pembangunan Proyek Srategis Nasional (PSN) Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mentarang Induk dinilai menjadi ancaman serius bagi bentang ekologis Sungai Tubu, Sungai Mentarang, hingga sebagian kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.

PLTA Mentarang Induk merupakan proyek yang diselenggarakan oleh perusahaan PT Kayan Hydropower Nusantara (KHN).

Pembangkit itu dirancang berkapasitas 1.375 megawatt (MW) dan diproyeksikan menjadi pemasok utama listrik bagi Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) di Kaltara.

Kebutuhan listrik kawasan industri itu diperkirakan mencapai puncaknya pada tahun 2032 dengan kebutuhan energi sebesar 25.615 MW, angka yang hampir setara dengan total pasokan listrik Pulau Jawa yang saat ini mencapai 31.328,92 MW atau sekitar 69,71 persen dari pasokan nasional PLN di Jawa.

Namun, di balik ambisi energi itu, proyek ini disebut akan menenggelamkan sedikitnya 243,66 hektare kawasan TNKM, wilayah yang selama ini dikenal sebagai salah satu benteng terakhir ekosistem alami Heart of Borneo (Jantung Kalimantan), kawasan hutan hujan tropis lintas negara yang menjadi penyangga kehidupan global.

Sungai Tubu dan Sungai Mentarang sebagai Penopang Kehidupan

Sungai Tubu dan Sungai Mentarang bukan hanya sekadar aliran air.

Di wilayah itu hidup ratusan jenis flora dan fauna endemik ikan, burung, mamalia, hingga serangga yang membentuk rantai kehidupan utuh dan relatif belum terganggu.

Jika PLTA dibangun, seluruh sistem kehidupan tersebut terancam hilang.

Kesaksian Tetua Punan di Sungai Tubu

Lai Icu, tetua Suku Punan dari Sungai Tubu, menyebut kawasan ini sebagai ruang hidup yang diwariskan secara turun-temurun.

Di sepanjang simpang Tubu–Mentarang hingga wilayah Seratap, terdapat lebih dari 30 riam (giram) dengan debit aliran alami rata-rata 558 meter kubik per detik.

Arus deras ini menjadi habitat khusus bagi ikan-ikan endemik yang tidak bisa hidup di perairan tenang.

“Di sini sungainya hidup. Ikan, burung, bunga, semua saling makan,” ujar Lai, sambil menunjuk riam yang dipenuhi bebatuan, sebagaimana diceritakan dalam Penelitian Nugal Institute for Social Ecological Studies dan LP3M. 

 

Burung Rangkong dan Rantai Ekologis yang Terancam

Tag

MORE