Ancaman Kerusakan Lingkungan dan Perlunya Kolaborasi
Ayub turut menyoroti ancaman kerusakan lingkungan di kawasan DAS Mahakam.
Aktivitas pertambangan, alih fungsi lahan, perkebunan, hingga pencemaran industri menjadi tantangan serius yang harus dihadapi.
Menurutnya, peningkatan PAD tidak boleh mengorbankan fungsi ekologis sungai.
Penegakan hukum terhadap pencemar lingkungan serta penerapan prinsip polluter pays perlu menjadi bagian dari tata kelola DAS yang berkelanjutan.
Selain sektor-sektor utama tersebut, Ayub melihat peluang lain dari pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya masyarakat di sepanjang Sungai Mahakam.
Produk kerajinan, kuliner, hingga seni budaya lokal dinilai dapat memberikan nilai tambah ekonomi apabila didukung promosi, pelatihan, dan akses pembiayaan yang memadai.
Ayub: "Pengelolaan DAS Mahakam Harus Terintegrasi"
Di bagian akhir bukunya, Ayub menegaskan bahwa pengelolaan DAS Mahakam membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.
Menurut dia, keberhasilan meningkatkan PAD tidak hanya ditentukan oleh besarnya potensi yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan seluruh pihak membangun tata kelola yang terintegrasi.
"Tujuan akhirnya bukan sekadar meningkatkan Pendapatan Asli Daerah, tetapi membangun kemandirian fiskal daerah tanpa mengorbankan fungsi ekologis Sungai Mahakam," tulis Ayub.
(sobizz/wan)
- Husni Fahruddin: Menjaga DAS Mahakam Berarti Menjaga Masa Depan Kalimantan Timur
- Peletakan Batu Pertama GKII Geleo Baru, Ekti Imanuel: Gereja Perkuat Moral dan Persaudaraan
- Demi Sekolah, Anak-anak Santan Ulu Menyeberangi Sungai dengan Cara Ini!
- Kenapa PI 10 Persen Migas Kaltim Belum Maksimal? Baru 2 WK Berikan Hak, 6 Belum Menawar
Tag




