Arus Publik

Viral Antrean BBM di Long Iram, Ekti Imanuel Sebut Kuota untuk Daerah 3T Sudah Tak Lagi Mampu Penuhi Kebutuhan Warga

Foto: Kolase Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur Ekti Imanuel dan suasana antrean warga membeli BBM subsidi di SPBU terapung Kecamatan Long Iram, Kabupaten Kutai Barat, yang viral di media sosial (Arusbawah.co/Instagram @kaltimku)

ARUSBAWAH.CO -  Sebuah video yang memperlihatkan panjangnya antrean warga untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi di SPBU terapung Kecamatan Long Iram, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur (Kaltim), viral di media sosial.

Video itu memantik reaksi warganet karena menunjukkan bagaimana warga di wilayah pedalaman Kaltim masih harus mengantre panjang hanya untuk memperoleh Pertalite dan Biosolar.

Dalam video yang beredar, puluhan warga terlihat membawa jeriken dengan berbagai ukuran.

Mereka sudah datang sejak SPBU terapung mulai beroperasi agar kebagian BBM subsidi.

Antrean tampak mengular dari area ponton SPBU hingga ke dermaga kayu di tepi Sungai Mahakam.

Video itu diunggah ulang oleh salah satu akun Instagram bernama @kaltimku.

Dalam keterangannya disebutkan, antrean panjang terjadi di SPBU terapung Kecamatan Long Iram karena tingginya kebutuhan masyarakat terhadap BBM bersubsidi.

"Antrean panjang terlihat di SPBU terapung yang berada di Kecamatan Long Iram, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur. Warga tampak rela menunggu giliran demi mendapatkan BBM bersubsidi," tulis akun tersebut.

Unggahan itu juga menyebutkan puluhan warga sudah memenuhi lokasi SPBU sejak jam operasional dimulai.

Mereka mengantre untuk membeli Pertalite maupun Biosolar yang menjadi kebutuhan utama masyarakat di kawasan pedalaman.

Dari video yang beredar, suasana antrean terlihat ramai namun tetap tertib.

Sebagian warga berdiri di atas dermaga sambil menjaga jeriken yang telah disusun rapi.

Sebagian lainnya menunggu giliran di atas ponton SPBU terapung.

Sementara petugas terus melayani proses pengisian BBM satu per satu.

Kondisi itu kembali memperlihatkan tantangan distribusi energi di kawasan pedalaman Kaltim, khususnya wilayah yang mengandalkan jalur Sungai Mahakam sebagai akses utama transportasi.

Long Iram sendiri merupakan salah satu kecamatan di pedalaman Kutai Barat dengan jumlah penduduk sekitar 7.600 jiwa.

Kecamatan itu terdiri atas beberapa kampung, di antaranya Long Iram Kota dan Long Iram Seberang.

Ekti Imanuel: Kuota BBM Daerah 3T Sudah Tidak Lagi Mencukupi

Menanggapi viralnya video itu, Wakil Ketua DPRD Kaltim Ekti Imanuel mengatakan persoalan utama bukan terletak pada distribusi BBM menuju Long Iram, melainkan kuota BBM subsidi yang dinilai sudah tidak lagi sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Menurut politikus Partai Gerindra yang berasal dari daerah pemilihan Kutai Barat dan Mahakam Ulu itu, persoalan kekurangan kuota BBM di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) sudah berlangsung cukup lama.

"Sebenarnya terkait kuota BBM untuk daerah 3T itu memang masih jauh dari cukup. Mahakam Ulu, Kutai Barat, kuotanya masih kurang. Selama kuotanya belum ditambah, ya sampai kapan pun kelangkaan akan terus terjadi," kata Ekti Imanuel kepada Arusbawah.co, Senin (13/7/2026).

Legislator Karang Paci itu mengatakan DPRD Kaltim sebenarnya sudah beberapa kali menyampaikan persoalan tersebut kepada Pemerintah Provinsi Kaltim maupun Pertamina.

Namun hingga kini penambahan kuota belum juga terealisasi karena terbentur regulasi yang menjadi kewenangan pemerintah pusat.

"Kami sebagai legislator sudah menyampaikan ke gubernur dan juga ke Pertamina. Tapi memang regulasinya seperti itu. Kewenangan DPRD provinsi juga ada batasnya," ujarnya.

 

Kelangkaan BBM Dinilai Ganggu Aktivitas Ekonomi di Pedalaman Kaltim

Menurut Ekti, dampak kekurangan BBM subsidi bukan hanya dirasakan masyarakat umum, tetapi juga langsung memukul aktivitas ekonomi di wilayah pedalaman.

Ia menyebut sektor angkutan darat maupun angkutan sungai menjadi yang paling terdampak karena keduanya sangat bergantung pada ketersediaan Pertalite dan Biosolar.

"Kalau BBM langka, yang paling terdampak itu angkutan darat, angkutan sungai, termasuk pelaku usaha yang bergantung pada transportasi. Semua ikut terkendala," katanya.

Ekti menegaskan persoalan di Long Iram bukan disebabkan sulitnya pengiriman BBM menuju wilayah tersebut.

Menurut dia, jalur distribusi sebenarnya sudah berjalan.

Yang menjadi masalah adalah besaran kuota yang tidak pernah mengalami penyesuaian, sementara jumlah kendaraan, kapal, serta aktivitas masyarakat terus meningkat dari tahun ke tahun.

"Akses untuk mengangkut BBM sebenarnya sudah jalan. Persoalannya memang kuotanya yang perlu ditambah. Mungkin sepuluh tahun lalu kuotanya masih cukup. Tapi sekarang jumlah kendaraan bertambah, kapal bertambah, aktivitas masyarakat juga berkembang. Sementara kuotanya masih tetap. Akhirnya kebutuhan masyarakat tidak terpenuhi," ujarnya.

DPRD Kaltim Berharap Pertamina Segera Evaluasi Kuota BBM Subsidi

Karena itu, Ekti berharap Pertamina segera melakukan evaluasi terhadap alokasi BBM subsidi untuk wilayah pedalaman Kaltim, khususnya Kutai Barat dan Mahakam Ulu.

Menurutnya, sudah saatnya kebijakan kuota disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan agar masyarakat tidak lagi menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan BBM.

"Harapan kita tentu ada perbaikan dari Pertamina. Kalimantan Timur ini daerah penghasil, seharusnya masyarakat tidak terus mengalami kelangkaan BBM. Kalau dibandingkan dengan Pulau Jawa, di sana SPBU sangat mudah ditemukan. Sementara di sini jumlah SPBU terbatas, kuotanya juga dibatasi. Akibatnya masyarakat yang harus menanggung dampaknya," kata Ekti.

(sobizz/wan)

 

Tag

MORE