Sebelum menetap di bawah flyover pada 2012, Nurasihkin harus berkali-kali melipat stannya karena lokasi berjualannya tergusur proyek pembangunan.
Namun, alih-alih menyerah, ia justru menemukan takdirnya di bawah kolong jembatan layang ini.
Anomali Malam di Kota Tepian
Di saat pedagang untuk-untuk lain memilih menyapa fajar, Nurasihkin justru memilih bersekutu dengan malam.
Ia baru mulai memanaskan minyak pada pukul 15.45 WITA dan bertahan hingga nyaris tengah malam.
"Orang Samarinda itu senangnya belanja malam. Saya coba tawarkan yang hangat di saat udara mulai dingin, alhamdulillah cocok," jelasnya.
Strategi ini membuahkan hasil yang fantastis.
Tak kurang dari 25 kilogram adonan ludes setiap harinya.
Rombongnya menjadi semacam mercusuar bagi para pelintas yang lapar di tengah malam.
Meski permintaan membludak, Nurasihkin memilih untuk tetap membumi.
Tag



