Ia sempat mencoba peruntungan dengan roti gembong yang sedang tren, namun tubuhnya protes.
"Sudah tidak sanggup, capek. Fokus di sini saja (untuk-untuk) sudah luar biasa tenaganya," akunya jujur.
Baginya, konsistensi jauh lebih berharga daripada sekadar mengejar tren sesaat.
Harapan di Balik Penggorengan
Kini, di usianya yang tak lagi muda, Nurasihkin dibantu oleh suami dan anak keduanya.
Ia tidak muluk-muluk.
Ia hanya berharap anak-anaknya memiliki satu hal: kesabaran.
Baginya, membangun nama besar seperti Nurbayah tidak butuh promosi gila-gilaan, melainkan ketulusan untuk tetap hadir di tempat yang sama, setiap hari, selama puluhan tahun.
Di bawah lampu jalanan yang remang, Acil Nurasihkin adalah bukti hidup bahwa di tengah modernitas Samarinda yang kian angkuh, ada kehangatan tradisi yang menolak untuk padam.
Untuk-untuknya bukan sekadar camilan, ia adalah memori kolektif warga kota yang terus digoreng dalam kuali sejarah yang sama sejak 1987. (Gasela Todotepon Moron)
Tag




