Arus Publik

Terowongan Samarinda

Terowongan Samarinda Ditarget September, Tapi Izin Pusat Masih Jadi Penentu

Terowongan Samarinda Masih Terkunci Izin

TUNGGU IZIN - Penampakan bagian dalam terowongan Samarinda/ARUSBAWAH.CO

ARUSBAWAH.COTerowongan yang dibangun Pemerintah Kota Samarinda disebut sudah rampung secara fisik dan dinilai siap digunakan.

Proyek terowongan (Tunnel) Samarinda yang menghubungkan Jalan Sultan Alimuddin dan Jalan Kakap ini diketahui telah menghabiskan anggaran sekitar Rp432,3 miliar dari APBD periode 2022–2025.

Selain itu, ada usulan tambahan anggaran sebesar Rp90 miliar pada 2026 ini untuk penguatan struktur pasca-longsor proyek tersebut.

Meski konstruksi fisik telah rampung, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda masih mengikuti tahapan administrasi dan teknis yang dipersyaratkan sebelum terowongan tersebut resmi dibuka untuk umum.

Sehingga, masyarakat masih harus menunggu untuk melintasi terowongan itu lantaran izin operasional dari pemerintah pusat belum terbit.

Saat ini, terowongan tersebut masih dalam proses penerbitan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) sebelum dilakukan uji operasional.

Asisten II Sekretariat Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, mengatakan seluruh dokumen pendukung saat ini terus dilengkapi sebelum diajukan kepada pihak terkait.

Pemkot Samarinda akan mengajukan uji kelayakan pada 24 Juni mendatang.

"Untuk terowongan, tanggal 24 nanti kita ajukan uji kelayakan. SLF-nya terus kita lengkapi," kata Marnabas kepada awak media, Jumat (19/6/2026).

Jika seluruh tahapan berjalan sesuai jadwal, Pemkot berharap terowongan dapat dibuka untuk masyarakat sekitar September mendatang.

Meski demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan bersama Balai Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (BKJTK) yang melakukan penilaian.

"Kemudian mungkin September sudah bisa dibuka. Tergantung kesiapan dari Kementerian Perhubungan dan BKJTK," ujarnya.

Menurut Marnabas, tahapan tersebut diperkirakan memerlukan waktu hingga sekitar 69 hari.

"Sekarang tinggal menunggu proses dari mereka karena ada waktu sekitar 69 hari," kata Marnabas.

Marnabas mengatakan pihaknya memahami proses evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh mengingat terowongan tersebut merupakan infrastruktur yang belum pernah ada sebelumnya di Kalimantan.

Karena itu, seluruh aspek keselamatan harus dipastikan memenuhi standar sebelum dioperasikan.

"Karena kita paham juga, terowongan ini satu-satunya di Kalimantan. Jadi kita berharap September sudah bisa dibuka," katanya.

Saat ini, pekerjaan konstruksi disebut sudah selesai sepenuhnya.

Pemerintah hanya tinggal menuntaskan beberapa aspek pendukung sebelum proses serah terima dan operasional.

Salah satunya adalah memastikan sistem penerangan dan kelistrikan dapat berfungsi secara optimal.

Menurut Marnabas, lampu menjadi komponen yang sangat penting karena berkaitan langsung dengan keselamatan pengguna jalan.

Karena itu, Pemkot meminta agar seluruh skenario antisipasi disiapkan, termasuk penyediaan genset sebagai sumber listrik cadangan.

"Kalau pekerjaan fisik sudah selesai. Tinggal lampu-lampunya saja. Saya minta sebelum penyerahan benar-benar diantisipasi. Jangan sampai lampu mati, itu bahaya. Harus ada genset yang disiapkan," tegasnya.

Marnabas juga menanggapi kemunculan banner penjualan lahan di kawasan atas terowongan, tepatnya dari sisi Jalan Kakap, yang belakangan viral di media sosial.

Ia memastikan seluruh lahan yang dibutuhkan untuk proyek tersebut telah dibebaskan oleh pemerintah.

Karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap status lahan di area tersebut.

"Oh enggak. Sudah dibebaskan semua. Di atas itu sudah pasti bebas," katanya.

Tag

MORE