Arus Publik

Samarinda Terkini

Lorong-Lorong Baru, Pembeli yang Belum Kembali: Cerita Pedagang Menanti Ramainya Pasar Pagi

DAGANGAN - Kios sembako milik Surati (68) di Pasar Pagi Samarinda/ARUSBAWAH.CO

ARUSBAWAH.CO -  Sudah hampir enam bulan Surati (68) menempati kios barunya di lantai dua Pasar Pagi Samarinda. 

Bangunannya memang lebih rapi, lebih bersih, dan tempat duduk pedagang terasa lebih nyaman dibanding pasar lama.

Namun bagi pedagang sembako berusia 68 tahun itu, kenyamanan bangunan tidak serta-merta mendatangkan pembeli.

Yang ia rasakan justru sebaliknya.

Sejak pindah ke gedung baru pada Januari 2026, omzet menurun drastis.

Bahkan hingga siang hari, tak jarang tak satu pun transaksi terjadi di kiosnya.

Kata Surati, alasannya adalah akses masuk Pasar Pagi yang mengharuskan pengunjung menaiki banyak anak tangga.

Menurutnya, banyak pembeli enggan naik karena harus melewati puluhan anak tangga.

“Ya kurang, Mbak (pendapatan dan pengunjung). Memang ini ngeluhnya di naik tangga, Mbak. Kalau orang sudah sepuh ya enggak bisa tahan toh, Mbak. Kasihan juga,” katanya kepada Arusbawah.co, Sabtu (20/6/2026).

Saat ditemui, Surati mengaku hari itu belum memperoleh pembeli pertama.

Setiap harinya, ia membuka kios dari pukul 9 pagi hingga 4 sore. 

“Kadang-kadang (seharian) enggak dapat pelaris, Mbak. (Hari) ini loh Rp1.000 belum dapat pelaris dari pagi,” ujarnya.

Di sisi lain, keberadaan lift belum cukup membantu karena letaknya di parkiran, sehingga tidak mudah terlihat oleh pengunjung yang datang dari depan pasar.

“Masa orang mau belanja datang nyari di parkiran?" katanya.

Akibatnya, sebagian besar pengunjung memilih berbelanja atau bahkan mencari kebutuhan di tempat lain yang lebih mudah dijangkau.

“Umpama (misalnya) orang mau beli kerupuk seperempat saja, mana mau naik tangga kayak gitu? Lebih baik beli saja di pinggir jalan, banyak. Atau misal mau beli beras setengah kilo, sekilo, mana mau naik dong? Ya begitu lah,” ucapnya.

Lorong Dinilai Jadi Masalah

Selain soal akses tangga, Surati menilai penataan kios Pasar Pagi juga menjadi penyebab sepinya aktivitas perdagangan.

Menurutnya, desain lorong yang sekarang membuat arus pengunjung tidak menyebar merata ke seluruh kios.

Sesekali Surati mengarahkan pandangannya ke ujung lorong.

Di sana, jalur pejalan kaki berhenti begitu saja. Tidak ada akses tembus yang menghubungkan satu blok kios dengan blok lainnya.

Baginya, desain semacam itu membuat pembeli tidak terdorong untuk menjelajahi seluruh area pasar. Mereka cenderung berhenti di jalur yang dilalui pertama kali, sementara kios-kios di bagian dalam harus menunggu lebih lama untuk didatangi pengunjung.

“Seharusnya di tengah (deretan kios) ini kasih jalan. Jadi orang kan bisa ke sana sini toh,” ujarnya.

Kenangan tentang Pasar Pagi lama pun masih melekat di benaknya.

Tag

MORE