"Saat ini masih dalam proses pengujian dan commissioning dari kementerian. Proses asistensi terus berjalan, ada beberapa tahap yang harus dilalui, termasuk penunjukan konsultan penguji dan berbagai pengujian teknis," kata Hendra.
"Targetnya mudah-mudahan surat SLF bisa keluar pada bulan September," sambungnya.
Ia menjelaskan, yang ditunggu saat ini adalah terbitnya SLF. Selama seluruh persyaratan dipenuhi dan target kementerian tercapai, ia berharap tidak ada kendala dalam proses tersebut.
"Yang ditunggu sebenarnya adalah keluarnya SLF. Selama semua syarat dipenuhi dan target kementerian tercapai, mudah-mudahan tidak ada kendala," ujarnya.
Hendra menambahkan, uji commissioning merupakan bagian dari proses penerbitan SLF. Pengujian itu meliputi pengujian sampel material hingga uji beban di lapangan.
"Setelah SLF terbit, terowongan pada prinsipnya sudah bisa dipakai. Uji commissioning merupakan bagian dari proses itu, termasuk pengujian sampel material dan pengujian beban di lapangan," pungkasnya.
Terowongan Ditarget Dibuka September, Pemkot Lengkapi SLF
Sementara itu, Pemerintah Kota Samarinda masih melengkapi proses penerbitan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) sebagai syarat sebelum Terowongan Samarinda dapat dioperasikan.
Asisten II Sekretariat Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, mengatakan seluruh dokumen pendukung terus dilengkapi sebelum diajukan untuk proses uji kelayakan.
“Untuk terowongan, tanggal 24 nanti kita ajukan uji kelayakan. SLF-nya terus kita lengkapi,” kata Marnabas, Jumat (19/6/2026) lalu.
Ia menjelaskan, apabila seluruh tahapan berjalan sesuai jadwal, terowongan yang menghubungkan Jalan Sultan Alimuddin dan Jalan Kakap itu ditargetkan dapat dibuka untuk masyarakat pada September 2026.
Meski demikian, proses tersebut masih bergantung pada hasil penilaian pemerintah pusat melalui BKJTJK yang melakukan asesmen dan evaluasi teknis.
“Kemudian mungkin September sudah bisa dibuka. Tergantung kesiapan dari Kementerian Perhubungan dan BKJTJK,” ujarnya.
Menurut Marnabas, proses evaluasi tersebut diperkirakan memerlukan waktu sekitar 69 hari sebelum seluruh tahapan dapat dinyatakan tuntas.
“Sekarang tinggal menunggu proses dari mereka karena ada waktu sekitar 69 hari,” katanya.
Ia mengeklaim, terowongan tersebut merupakan infrastruktur pertama di Kalimantan sehingga seluruh aspek keselamatan harus dipastikan memenuhi standar sebelum dibuka untuk umum.
Sementara dari sisi konstruksi, pekerjaan fisik disebut telah selesai. Pemerintah kini tinggal memastikan sejumlah fasilitas pendukung, termasuk sistem penerangan dan kelistrikan, dapat berfungsi optimal saat terowongan mulai beroperasi.
“Kalau pekerjaan fisik sudah selesai. Tinggal lampu-lampunya saja. Saya minta sebelum penyerahan benar-benar diantisipasi. Jangan sampai lampu mati, itu bahaya. Harus ada genset yang disiapkan,” tegasnya.
(raf)
Tag




