Arus Publik

Tak Bisa Mendengar, Tapi Memberi Harapan: Kisah Linda dan Tempat Cuci Motor untuk Tunarungu di Samarinda

LOKASI - Tempat usaha cuci motor di Jalan Suryanata, Kelurahan Air Putih, Kecamatan Samarinda Ulu/ Arusbawah.co

Sebagian bekerja sebagai pengemudi ojek online.

Ada pula yang bekerja di minimarket, membantu membersihkan masjid, menjadi pekerja kebersihan rumah hingga berdagang.

"Mereka rata-rata memang semangat. Mau kerja apa saja," katanya.

Masing-masing berusaha mencari penghidupan sesuai kemampuan yang dimiliki.

Pernah Ditawari Bantuan Modal, Tetapi Memilih Jalan Lain

Di tengah perjuangan mengelola usaha, Linda pernah mendapat tawaran bantuan modal usaha.

Namun bukan tambahan modal untuk memperbesar usaha cuci motor yang diinginkannya.

Linda justru memilih jika bantuan tersebut diarahkan untuk membuka usaha lain.

Sebelumnya ia sempat berjualan sembako.

"Mama maunya modal buat jualan saja. Dulu sempat sembako, cuma sekarang sudah enggak lagi," ujar anak Linda menerjemahkan bahasa isyarat sang ibu.

Kini ia berharap bisa kembali membuka usaha serupa, atau berjualan makanan di depan tempat usahanya.

"Kalau cuci motor sudah cukup. Mama maunya buka sembako lagi atau jualan makanan," kata anak Linda menerjemahkan bahasa isyarat sang ibu.

Meski warung sembakonya sempat tutup karena sepi, keinginan itu belum padam.

"Kalau enggak, pengennya jualan makanan di depan," ujar anak Linda.

Pelanggan Memahami Bahasa Mereka

Keterbatasan pendengaran ternyata tidak menjadi hambatan berarti saat melayani pelanggan.

Menurut Linda, selama ini hampir tidak pernah ada persoalan komunikasi.

Pelanggan yang datang umumnya sudah memahami kondisi para pekerja.

Di lokasi usaha juga terdapat spanduk penanda bahwa yang bekerja merupakan penyandang tunarungu.

"Orang-orang sudah tahu. Jadi mereka mengerti," ujar keponakan Linda.

Hal itu membuat para pekerja merasa lebih percaya diri saat melayani pelanggan.

'Yang Penting Sehat dan Semangat'

Saat akhir perbincangan, Linda kembali mengangkat kedua tangannya.

Dengan gerakan yang tenang, ia menyampaikan pesan untuk sesama penyandang tunarungu.

Anaknya kemudian menerjemahkan kalimat itu.

"Yang penting sehat dan semangat."

Kalimatnya sederhana.

Namun selama lebih dari satu dekade mempertahankan usaha yang dirintis bersama almarhum suami, Linda membuktikan bahwa keterbatasan pendengaran bukan alasan untuk berhenti berkarya.

Justru dari tempat cuci motor sederhana di Jalan Suryanata itu, ia terus membuka ruang agar teman-teman sesama penyandang tunarungu dapat bekerja, memperoleh penghasilan, dan merasa bahwa mereka tetap memiliki tempat di tengah masyarakat. (rafika widyanasari)

 

 

Tag

MORE